Ini
salah satu alasan mengapa aku berani berniat ingin nikah muda. Meskipun kata teman ini bukan nikah muda lagi tapi memang sudah waktunya. 20 tahun keatas itu sudah wajar, yang nikah muda itu saat masih jenjang sekolah. Hem entahlah, yang jelas menurutku sekarang masih muda. Aku hanya tidak
ingin semakin kehilangan orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Aku tidak
bisa kehilangan mereka. Satu demi satu keluarga dekatku dipangggil
kehadirat-Nya. Padahal aku ingin mereka ikut bersaksi dalam hal sakral saat itu tiba
dan agar telah ada yang menjadi imamku dan pelindungku ketika mereka telah
tiada. Meskipun umur itu tak tahu sampai kapan.
Cukup
ya Rabb !!! pintaku…
Kamis, 28 April 2016, kehilangan om yang
seperti orangtua ku sendiri. Beliau saudara dari almarhuma ibuku. Sosoknya yang
begitu rendah hati, paling peduli dengan orang lain terlebih keluarga. Pokoknya
sosoknya begitu istimewa.
Masih
teringat jelas ketika acara aqiqahan cucunya beberapa hari yang lalu, itu atas
kehendak beliau. Dalam keadaan sakitnya, beliau tetap ingin melangsungkan acara
itu, ingin mengumpulkan sanak saudara, family. Meskipun keluarga bahkan tante (istrinya)
berat untuk melakukannya karena mengingat keadaannya. Tapi karena keinginnanya
untuk itu, semua dilaksanakan. Bahkan beliau masih sempat keluar berkumpul dan
ikut melakukan barazanji padahal keadaannya saat itu sudah dalam keadaan sakitnya.
Terkadang aku kena terguran darinya tapi
aku yakin itu karena sayang dan peduli beliau padaku yang adik bungsunya alias
ibu kandungku berpulang lebih cepat, saat usiaku berumur kurang lebih 15 tahun.
Jadi dirinya telah memposisikan diri sebagai orangtua bagiku.
Beliau juga sempat menanyakan kuliah dan
kapan wisudaku saat itu. Tapi aku tidak sempat pamit padanya saat ingin balik
ke asrama karena melihat beliau yang lagi terlelap istrahat, saya tidak tega
membangunkannya. Selamat jalan Om Bapak Aji.
Tak
pernah lepas air mata mengalir jika teringat sosok beliau, saat gambarnya
menghiasi pandanganku, bahkan saat diriku shalatpun sering sambil nangis tak
bisa terbendung.
Serasa aku belum percaya dengan takdir
Tuhan itu. Bahkan tiga hari kepergiannya seperti ini, kami beserta keluarga
yang lain seakan masih tak percaya dengan kepergiannya. Semoga diterima
disisi-Nya dan diterima amal ibadahnya aamiin..
