Sabtu, 30 April 2016

Om Bapak Aji, sad



            Ini salah satu alasan mengapa aku berani berniat ingin nikah muda. Meskipun kata teman ini bukan nikah muda lagi tapi memang sudah waktunya. 20 tahun keatas itu sudah wajar, yang nikah muda itu saat masih jenjang sekolah. Hem entahlah, yang jelas menurutku sekarang masih muda. Aku hanya tidak ingin semakin kehilangan orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Aku tidak bisa kehilangan mereka. Satu demi satu keluarga dekatku dipangggil kehadirat-Nya. Padahal aku ingin mereka ikut bersaksi dalam hal sakral saat itu tiba dan agar telah ada yang menjadi imamku dan pelindungku ketika mereka telah tiada. Meskipun umur itu tak tahu sampai kapan.
            Cukup ya Rabb !!! pintaku…
Kamis, 28 April 2016, kehilangan om yang seperti orangtua ku sendiri. Beliau saudara dari almarhuma ibuku. Sosoknya yang begitu rendah hati, paling peduli dengan orang lain terlebih keluarga. Pokoknya sosoknya begitu istimewa.
            Masih teringat jelas ketika acara aqiqahan cucunya beberapa hari yang lalu, itu atas kehendak beliau. Dalam keadaan sakitnya, beliau tetap ingin melangsungkan acara itu, ingin mengumpulkan sanak saudara, family. Meskipun keluarga bahkan tante (istrinya) berat untuk melakukannya karena mengingat keadaannya. Tapi karena keinginnanya untuk itu, semua dilaksanakan. Bahkan beliau masih sempat keluar berkumpul dan ikut melakukan barazanji padahal keadaannya saat itu sudah dalam keadaan sakitnya.
           
       Bahkan saat ajal itu merenggutnya pagi mnjlang siang itu, beliau masih ingin melakukan shalat sampai shalat subuh trakhirnya dalam keadaanya yang semakin melemah. insyah Allah khusnul khotimah.. aamiin
Terkadang aku kena terguran darinya tapi aku yakin itu karena sayang dan peduli beliau padaku yang adik bungsunya alias ibu kandungku berpulang lebih cepat, saat usiaku berumur kurang lebih 15 tahun. Jadi dirinya telah memposisikan diri sebagai orangtua bagiku.
Beliau juga sempat menanyakan kuliah dan kapan wisudaku saat itu. Tapi aku tidak sempat pamit padanya saat ingin balik ke asrama karena melihat beliau yang lagi terlelap istrahat, saya tidak tega membangunkannya. Selamat jalan Om Bapak Aji.
            Tak pernah lepas air mata mengalir jika teringat sosok beliau, saat gambarnya menghiasi pandanganku, bahkan saat diriku shalatpun sering sambil nangis tak bisa terbendung.
Serasa aku belum percaya dengan takdir Tuhan itu. Bahkan tiga hari kepergiannya seperti ini, kami beserta keluarga yang lain seakan masih tak percaya dengan kepergiannya. Semoga diterima disisi-Nya dan diterima amal ibadahnya aamiin..