Selasa, 31 Mei 2016

Ujian Komperehensif Ulumul Qur'an



            Lama bergalau-galau ria dengan tidak adanya kejelasan penguji komprehensif. Tapi saat tiba diberi SK (Surat Keputusan) dari pegawai akademik, hatiku dag dig dug berharap mendapat penguji yang baik- baik dan tak mempersulit penyelesaianku. Saat ku buka dan ternyata Alhamdulillah, saya suka J meskipun ada satu kecewa tapi setelah dipikir-pikir ya ada hikmahnya.

            Setelah SK penguji ulumul Qur’an sampai di tangan dosen penguji, beliaupun memberikan kisi-kisi yang mesti saya pelajari sebelum kembali menghadap untuk diuji. Bahkan lebih seminggu aku belajar dengan tanpa kejelasan kapan waktu free dari beliau. 

            Pagi itu, saya ingat jelas bahwa saya masih bermalas-malasan di tempat tidur dengan kerisauhanku karena penguji kompren lain belum kelar. Aku meminta salah satu teman kamar untuk bicara dengan beliau karena entah mengapa aku sangat segan padanya, mungkin karena kepribadian beliau yang sangat dingin meskipun murah senyum dan tidak pernah sama sekali diajar dalam mata kuliah sampai semester 8 ini oleh beliau.

            “Saya sekarang berada di fakultas, kalau bisa sekarang mau ujian maka saya tunggu di ruang jurusan karena setengah 9 saya ada acara di rektorat” Kata beliau dari balik telepon. Akupun sontak kaget dan bingung mau bilang apa, sebab persiapan kemarin belum saya pelajari ulang.

            Temanku V membalas “Ow iye prof, saya kesana sekarang”. Meskipun beliau sempat menanyakan alamat tempat tinggal saya, mungkin takutnya tempat saya jauh dan tidak sempat ketemu, tapi karena tinggal di Mahad aly jadi beliau mengiyakan.

            Sebenarnya saya berat menceritakan ini pada pembaca karena apa, sebab tahu sendiri pastinya. Saat itu jam menunjukkan kurang beberapa menit lagi jam 8, sedangkan Prof harus pergi setengah 9. Jadi kalau aku sempatkan mandi maka akan terlambat. J Bukan mahasiswa kalau tak pernah mengalami kejadian tak mandi masuk kampus hahaha,, *Cari alasan J peace
            Tapi jangan khawatir mandi tidak mandi tetapppp, J peace.  

 Tak jelas kok kalau belum mandi, soalnya nggak ada yang negur. Hhh sesampai di ruangan saya dapati beliau sedang ngobrol dengan salah satu dosen tafsir. Itupun menjadi kesempatan saya untuk kembali membuka catatan catatan yang aku bawa. Berharap yang saya pelajari tak terlupakan. Namun, saat berada dihadapan beliau, mengapa bleng.

Dari ketiga term ulumul tafsir yang diberikan Prof untuk saya pelajari, hanya satu term yang dipertanyakan beliau dengan berbagai pertanyaan. Akupun menjawab apa yang masih tertinggal di ingatan. Ditambah pertanyaan persoalan tafsir surah al-Insyirah. Ternyata Prof orangnya seperti itu, apa yang keluar dari lisannya seakan enak di dengar dan menyentuh kalbu, seakan mendengarkan nasehat-nasehat dari sosok yang luar biasa.

Bahkan terkadang Beliau bercerita diluar pembahasan, sempat menyinggung tentang jilbab yang setelah saya simpulkan dari pernyataannya, beliau tidak setuju dengan adanya cadar di Indonesia atau di Negara yang memang tak memiliki alasan pembenaran seperti di Arab Saudi. Penduduk Arab Saudi asli terkenal cepat timbulnya hasrat pada perempuan, sehingga perempuan harus bersembunyi dibalik kerudungnya. Juga pasir dan debu-debu disana. Terlebih perempuan-perempuan disana elok-elok rupanya
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ šš    
Terjemahannya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Kata beliau, jilbab itu yang menjulur sampai menutupi dada dengan tidak berpakaian ketat. Sebab diluar sana begitu banyak perempuan yang menampakkan hal-hal yang seharusnya tidak diperbolehkan untuknya. Sayapun saat itu menjadi contoh beliau yang katanya beliau senang jika sudah seperti cara berpakaian saya. Bahkan Prof, dalam hati yang paling dalam saya ingin lebih dari ini, menunggu betul-betul mantap.

Waktu terus bergulir sampai lupa jika Prof ada janji, beliau juga sempat menanyakan identitas saya, sampai ke pertanyaan-pertanyaan seperti mengisi biodata diri. Canda teman-teman ketika penasaran dengan hasil ujiannya, mereka mengejek, “Jangan-jangan Ga’, sebab Prof punya anak loh”… hahaha terus?,,, nggaklah, Prof Cuma nanya saja, saya mah apa atuhhh J tanggapku..

Tetapi mereka terus memarahiku jika aku selalu melontarkan perkataan itu. Karena mereka tidak suka jika saya selalu minder dengan orang-orang yang terlalu jauh derajat keilmuannya denganku. Serasa tidak pantas diriku ini yang kurang dalam hal ilmu agama dengan keluarga seperti itu. Tapi teman-teman terus menasehatiku jika seperti itu. Kenapa mengarah kesana pembahasannya.
 
Lanjut ke ujian komperehensifnya, Akhirnya beliau menadatangani lembar nilau itu yang awalnya saya lupa mengisi terlebih dahulu biodata peserta ujian. Beliau memberikan nilai yang sangat memuaskan dengan nasehatnya “Teruslah belajar al-qur’an terlebih hadis sebab itu pedoman kita dan itu jurusanmu” tanpa tertinggal senyum yang terus diterbar. “Makasih Prof,” meskipun tadi ada beberapa pertanyaan dengan jawabanku yang kurang memuaskan.