Lama
bergalau-galau ria dengan tidak adanya kejelasan penguji komprehensif. Tapi saat
tiba diberi SK (Surat Keputusan) dari pegawai akademik, hatiku dag dig dug berharap
mendapat penguji yang baik- baik dan tak mempersulit penyelesaianku. Saat ku
buka dan ternyata Alhamdulillah, saya suka J
meskipun ada satu kecewa tapi setelah dipikir-pikir ya ada hikmahnya.
Setelah
SK penguji ulumul Qur’an sampai di tangan dosen penguji, beliaupun memberikan
kisi-kisi yang mesti saya pelajari sebelum kembali menghadap untuk diuji. Bahkan
lebih seminggu aku belajar dengan tanpa kejelasan kapan waktu free dari beliau.
Pagi
itu, saya ingat jelas bahwa saya masih bermalas-malasan di tempat tidur dengan
kerisauhanku karena penguji kompren lain belum kelar. Aku meminta salah satu
teman kamar untuk bicara dengan beliau karena entah mengapa aku sangat segan
padanya, mungkin karena kepribadian beliau yang sangat dingin meskipun murah
senyum dan tidak pernah sama sekali diajar dalam mata kuliah sampai semester 8
ini oleh beliau.
“Saya
sekarang berada di fakultas, kalau bisa sekarang mau ujian maka saya tunggu di
ruang jurusan karena setengah 9 saya ada acara di rektorat” Kata beliau dari
balik telepon. Akupun sontak kaget dan bingung mau bilang apa, sebab persiapan
kemarin belum saya pelajari ulang.
Temanku
V membalas “Ow iye prof, saya kesana sekarang”. Meskipun beliau sempat
menanyakan alamat tempat tinggal saya, mungkin takutnya tempat saya jauh dan
tidak sempat ketemu, tapi karena tinggal di Mahad aly jadi beliau mengiyakan.
Sebenarnya
saya berat menceritakan ini pada pembaca karena apa, sebab tahu sendiri
pastinya. Saat itu jam menunjukkan kurang beberapa menit lagi jam 8, sedangkan
Prof harus pergi setengah 9. Jadi kalau aku sempatkan mandi maka akan
terlambat. J Bukan mahasiswa
kalau tak pernah mengalami kejadian tak mandi masuk kampus hahaha,, *Cari alasan
J peace
Tapi
jangan khawatir mandi tidak mandi tetapppp, J
peace.
Tak jelas kok kalau belum mandi, soalnya nggak
ada yang negur. Hhh sesampai di ruangan saya dapati beliau sedang ngobrol
dengan salah satu dosen tafsir. Itupun menjadi kesempatan saya untuk kembali
membuka catatan catatan yang aku bawa. Berharap yang saya pelajari tak
terlupakan. Namun, saat berada dihadapan beliau, mengapa bleng.
Dari ketiga term
ulumul tafsir yang diberikan Prof untuk saya pelajari, hanya satu term yang
dipertanyakan beliau dengan berbagai pertanyaan. Akupun menjawab apa yang masih
tertinggal di ingatan. Ditambah pertanyaan persoalan tafsir surah al-Insyirah. Ternyata
Prof orangnya seperti itu, apa yang keluar dari lisannya seakan enak di dengar
dan menyentuh kalbu, seakan mendengarkan nasehat-nasehat dari sosok yang luar
biasa.
Bahkan terkadang
Beliau bercerita diluar pembahasan, sempat menyinggung tentang jilbab yang
setelah saya simpulkan dari pernyataannya, beliau tidak setuju dengan adanya
cadar di Indonesia atau di Negara yang memang tak memiliki alasan pembenaran
seperti di Arab Saudi. Penduduk Arab Saudi asli terkenal cepat timbulnya hasrat
pada perempuan, sehingga perempuan harus bersembunyi dibalik kerudungnya. Juga pasir
dan debu-debu disana. Terlebih perempuan-perempuan disana elok-elok rupanya
.
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ
فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ
زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ
بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ
إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ
أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ
الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ
النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ
مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ
الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Terjemahannya: Katakanlah
kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau
putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka
memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)
Kata
beliau, jilbab itu yang menjulur sampai menutupi dada dengan tidak berpakaian
ketat. Sebab diluar sana begitu banyak perempuan yang menampakkan hal-hal yang
seharusnya tidak diperbolehkan untuknya. Sayapun saat itu menjadi contoh beliau
yang katanya beliau senang jika sudah seperti cara berpakaian saya. Bahkan
Prof, dalam hati yang paling dalam saya ingin lebih dari ini, menunggu
betul-betul mantap.
Waktu
terus bergulir sampai lupa jika Prof ada janji, beliau juga sempat menanyakan
identitas saya, sampai ke pertanyaan-pertanyaan seperti mengisi biodata diri.
Canda teman-teman ketika penasaran dengan hasil ujiannya, mereka mengejek, “Jangan-jangan
Ga’, sebab Prof punya anak loh”… hahaha terus?,,, nggaklah, Prof Cuma nanya
saja, saya mah apa atuhhh J
tanggapku..
Tetapi
mereka terus memarahiku jika aku selalu melontarkan perkataan itu. Karena mereka
tidak suka jika saya selalu minder dengan orang-orang yang terlalu jauh derajat
keilmuannya denganku. Serasa tidak pantas diriku ini yang kurang dalam hal ilmu
agama dengan keluarga seperti itu. Tapi teman-teman terus menasehatiku jika
seperti itu. Kenapa mengarah kesana pembahasannya.
Lanjut
ke ujian komperehensifnya, Akhirnya beliau menadatangani lembar nilau itu yang
awalnya saya lupa mengisi terlebih dahulu biodata peserta ujian. Beliau
memberikan nilai yang sangat memuaskan dengan nasehatnya “Teruslah belajar
al-qur’an terlebih hadis sebab itu pedoman kita dan itu jurusanmu” tanpa
tertinggal senyum yang terus diterbar. “Makasih Prof,” meskipun tadi ada
beberapa pertanyaan dengan jawabanku yang kurang memuaskan.
