Deadline
pembayaran SPP tinggal tiga hari lagi. Sedangkan Bank dalam kampus tiap harinya
full dengan antrian yang begitu panjang. Bagaimana tidak, pembayaran KKN juga
deadline hari jumat. Lagian tak ada tempat nunggu yang memadai jika harus
ikutan mengantri. Bahkan ada beberapa cerita teman yang entah malas ikut antri
atau ada kesibukan lain yang juga harus dilakukan selain mengantri. Entahlah,
yang jelas nomor antriannya hangus karena lambat kembali ke Bank saat itu.
*Peace Pung hhh
Akhirnya
Nur memutuskan untuk mengajakku ke Bank yang lain, tepatnya di sekitar Jl.
Pengayoman. Awalnya ragu sebab itu lumayan jauh dari kampus. Tapi karena
beberapa hari belakangan ini Bank dalam kampus seperti itu. Ya, mau bagaimana
lagi. Minta izinlah kami dan melaju ke sekitaran Mall Panakukang (MP).
Di Bank
pertama yang kami kunjungi, terlihat dari parkiran seseorang yang tak asing
bagi kami. Setelah memarkirkan motor, kami pun menyapanya. Ternyata kakak
senior TH yang sedang mengantar ibunya untuk transaksi. *Tidak usah saya
sebutkan namanya, inisialnya A, sering disapa M J … “Beberapa
menit yang lalu teman lelaki kalian juga kesini, ya sama mau membayar SPP juga”
kata senior A. Tapi, lagi-lagi hanya ambil antrian kemudian pergi, memang sih
Bank itu terlalu banyak antrian hampir setara dengan antrian dalam kampus.
Setelah menanyakan Bank yang lain sekitar
situ, aku kembali melajukan motor menulusuri jalan dengan jalur yang berbeda.
Tidak lama kemudian kami kembali menemukan Bank yang terlihat dari luar tidak
seramai Bank yang pertama. 207, 208 itulah antrian yang kami dapatkan, menunggu
35 pengantri lainnya yang masih menunggu.
5 menit
berdiri, akhirnya dari 5 deretan kursi tunggu yang panjang itu, ada bagian
kursi yang terlihat kosong. Tanpa menunggu lama, kami mengambil alih tempat
itu, tepatnya kursi paling depan.
Menunggu menjadi kegiatan kami hampir dua jam itu. Untuk menghilangkan
kebosanan, sekali-kali mengarahkan pandangan ke arah TV yang disiarkan tentang
berita-berita terhangat di Sul-Sel, melihat para nasabah yang sedang
bertransaksi dengan teller, atau melihat tingkah lucu bocah yang super cerewet
bagi seumurannya sambil sibuk memainkan handphone ibunya.
Tidak hanya
itu, menunggu antrian 30-an itu cukup lama. Akhirnya aku berbincang-bincang dengan Nur dengan
pembahasan yang tak menentu topiknya, juga menjadi pengisi kebosanan. Nur
bercerita tentang salah satu temannya yang pernah kerja di Bank. Kemudian
mempertanyakan tentang Kriteria karyawan(i) yang ditawarkan Bank itu seperti
apa? salah satu jawabanku ya mungkin penilaian cantik/menarik atau kegantengan
seseorang. Kami langsung tertawa pelan. Entahlah di dengar oleh para teller
atau tidak, yang jelas kata Nur “salah satu teller dari tadi melihat ke arah
kita” *Mungkin kedengaran, nggaklah sesibuk itu mereka.
Setelah
nomor antrian kami tidak lama lagi. Kami berniat bersamaan saja ke teller.
Nomor antrian yang satupun diberikan ke ibu yang duduk disebelah kami, karena
nomor antriannya masih panjang, yang tak lain dari ibu bocah kecil tadi.
“Ada yang
bisa saya bantu?” Sapa hangat teller cowok, dengan tebar senyum yang
mengalahkan senyum teller cewek disebelahnya yang sepertinya sudah mulai
kelelahan melayani para nasabah.
“Mau bayar
SPP” Jawab kami berdua.
Setelah
menanyakan nama kampus dan juga NIM (Nomor Induk Mahasiswa), teller itu
kemudian menyebut nominal rupiah yang harus dibayar. Setelah itu, tellernya
berucap dengan eksfresi yang berubah.
“Satu nomor
antrian hanya untuk satu nasabah.” Paparnya.
Sontak kami
berdua kaget, “Ha? serius Ka’/mas? Tapi tadi nomor antrian yang satu kami sudah
diberikan sama salah satu ibu disana.” Jelasku.
Tellernya
kembali menatap layar komputernya, dengan eksfresi yang tak biasa. Kami pun
merasa menyesal kenapa memberikan nomor antriannya. Mana mungkin kami harus
mengambil antrian ulang dengan waktu yang sudah hampir sore ini. Banknya juga
hampir tutup.
Tellernya
kembali tersenyum, dan menanyakan NIM dari Nur. Hufff leganya. Saya kira
betul-betul tak bisa. Setelah Nur selesai, Tellernya kembali berulah.
“Masih ada
Ka’!, ada teman yang nitip untuk pembayaran SPP nya” Ucapku.
“Nggak bisa
dek menitipkan pembayaran teman” jawab tellernya lagi.
Aku dan Nur
pun saling pandang dengan eksfresi heran, bukannya hanya Bank dalam kampus yang
tak bisa menitipkan pembayaran teman. Aduh Mas J.. Baru saja aku mau
berkomentar tapi Nur menyenggolku pelan, tanda tidak usah.
“Kenapa?
ada apa?” Tanya perempuan cantik yang sepertinya bos bagian teller itu, dengan
eksfresi santai dengan terus menebar senyum.
“Nggak Bu,
biasa, saya suka yang manis-manis” Jawab teller cowok itu pada perempuan tadi
dengan sumringah.
Aduh, kami
pun saling menebar senyum meskipun sedikit emosi dengan tingkah tellernya, padahal dibelakang sana para antriaan menunggu
dengan ekfresi yang berbeda-beda. Ada-ada ajah ini teller. Tellernya pun
meminta NIM dari teman yang nitip tadi. Makasih :) …. Aduh teller iseng…
