Kamis, 11 Februari 2016

Teller Iseng



            Deadline pembayaran SPP tinggal tiga hari lagi. Sedangkan Bank dalam kampus tiap harinya full dengan antrian yang begitu panjang. Bagaimana tidak, pembayaran KKN juga deadline hari jumat. Lagian tak ada tempat nunggu yang memadai jika harus ikutan mengantri. Bahkan ada beberapa cerita teman yang entah malas ikut antri atau ada kesibukan lain yang juga harus dilakukan selain mengantri. Entahlah, yang jelas nomor antriannya hangus karena lambat kembali ke Bank saat itu. *Peace Pung hhh
 

            Akhirnya Nur memutuskan untuk mengajakku ke Bank yang lain, tepatnya di sekitar Jl. Pengayoman. Awalnya ragu sebab itu lumayan jauh dari kampus. Tapi karena beberapa hari belakangan ini Bank dalam kampus seperti itu. Ya, mau bagaimana lagi. Minta izinlah kami dan melaju ke sekitaran Mall Panakukang (MP).


            Di Bank pertama yang kami kunjungi, terlihat dari parkiran seseorang yang tak asing bagi kami. Setelah memarkirkan motor, kami pun menyapanya. Ternyata kakak senior TH yang sedang mengantar ibunya untuk transaksi. *Tidak usah saya sebutkan namanya, inisialnya A, sering disapa M J    “Beberapa menit yang lalu teman lelaki kalian juga kesini, ya sama mau membayar SPP juga” kata senior A. Tapi, lagi-lagi hanya ambil antrian kemudian pergi, memang sih Bank itu terlalu banyak antrian hampir setara dengan antrian dalam kampus.


             Setelah menanyakan Bank yang lain sekitar situ, aku kembali melajukan motor menulusuri jalan dengan jalur yang berbeda. Tidak lama kemudian kami kembali menemukan Bank yang terlihat dari luar tidak seramai Bank yang pertama. 207, 208 itulah antrian yang kami dapatkan, menunggu 35 pengantri lainnya yang masih menunggu.


            5 menit berdiri, akhirnya dari 5 deretan kursi tunggu yang panjang itu, ada bagian kursi yang terlihat kosong. Tanpa menunggu lama, kami mengambil alih tempat itu, tepatnya kursi paling depan.  Menunggu menjadi kegiatan kami hampir dua jam itu. Untuk menghilangkan kebosanan, sekali-kali mengarahkan pandangan ke arah TV yang disiarkan tentang berita-berita terhangat di Sul-Sel, melihat para nasabah yang sedang bertransaksi dengan teller, atau melihat tingkah lucu bocah yang super cerewet bagi seumurannya sambil sibuk memainkan handphone ibunya.


            Tidak hanya itu, menunggu antrian 30-an itu cukup lama. Akhirnya aku  berbincang-bincang dengan Nur dengan pembahasan yang tak menentu topiknya, juga menjadi pengisi kebosanan. Nur bercerita tentang salah satu temannya yang pernah kerja di Bank. Kemudian mempertanyakan tentang Kriteria karyawan(i) yang ditawarkan Bank itu seperti apa? salah satu jawabanku ya mungkin penilaian cantik/menarik atau kegantengan seseorang. Kami langsung tertawa pelan. Entahlah di dengar oleh para teller atau tidak, yang jelas kata Nur “salah satu teller dari tadi melihat ke arah kita” *Mungkin kedengaran, nggaklah sesibuk itu mereka.


            Setelah nomor antrian kami tidak lama lagi. Kami berniat bersamaan saja ke teller. Nomor antrian yang satupun diberikan ke ibu yang duduk disebelah kami, karena nomor antriannya masih panjang, yang tak lain dari ibu bocah kecil tadi.


            “Ada yang bisa saya bantu?” Sapa hangat teller cowok, dengan tebar senyum yang mengalahkan senyum teller cewek disebelahnya yang sepertinya sudah mulai kelelahan melayani para nasabah.


            “Mau bayar SPP” Jawab kami berdua.

            Setelah menanyakan nama kampus dan juga NIM (Nomor Induk Mahasiswa), teller itu kemudian menyebut nominal rupiah yang harus dibayar. Setelah itu, tellernya berucap dengan eksfresi yang berubah.


            “Satu nomor antrian hanya untuk satu nasabah.” Paparnya.

            Sontak kami berdua kaget, “Ha? serius Ka’/mas? Tapi tadi nomor antrian yang satu kami sudah diberikan sama salah satu ibu disana.” Jelasku.


            Tellernya kembali menatap layar komputernya, dengan eksfresi yang tak biasa. Kami pun merasa menyesal kenapa memberikan nomor antriannya. Mana mungkin kami harus mengambil antrian ulang dengan waktu yang sudah hampir sore ini. Banknya juga hampir tutup.

            Tellernya kembali tersenyum, dan menanyakan NIM dari Nur. Hufff leganya. Saya kira betul-betul tak bisa. Setelah Nur selesai, Tellernya kembali berulah.

            “Masih ada Ka’!, ada teman yang nitip untuk pembayaran SPP nya” Ucapku.

            “Nggak bisa dek menitipkan pembayaran teman” jawab tellernya lagi.


            Aku dan Nur pun saling pandang dengan eksfresi heran, bukannya hanya Bank dalam kampus yang tak bisa menitipkan pembayaran teman. Aduh Mas J.. Baru saja aku mau berkomentar tapi Nur menyenggolku pelan, tanda tidak usah. 


            “Kenapa? ada apa?” Tanya perempuan cantik yang sepertinya bos bagian teller itu, dengan eksfresi santai dengan terus menebar senyum.

            “Nggak Bu, biasa, saya suka yang manis-manis” Jawab teller cowok itu pada perempuan tadi dengan sumringah.


            Aduh, kami pun saling menebar senyum meskipun sedikit emosi dengan tingkah tellernya, padahal dibelakang sana para antriaan menunggu dengan ekfresi yang berbeda-beda. Ada-ada ajah ini teller. Tellernya pun meminta NIM dari teman yang nitip tadi. Makasih :) …. Aduh teller iseng…


Akhirnya kembali



           Lama tak jumpa, tapi pas berjumpa langsung mengajakmu untuk menemaniku keluar kampus.  bertindak sebagai pengawal yang menjagaku dari para polisi-polisi yang biasanya menunggu mangsa di pinggir jalan.

            Setelah kegiatan MUBES (Musyawarah Besar) di Bantimurung usai. Tepatnya aku sedang dalam perjalanan pulang, Bapak menelponku. Menanyakan posisi keberadaanku dan memberi kabar gembira. Sontak aku kaget dengan suara yang sedikit meninggi. “Serius, pak? alhamdulillah” kataku

            Cukup lama aku mencari dan menunggu kabarnya, tapi tak kunjung tiba. Bahkan ketika aku yakin, sudah tak mungkin  aku bisa mendapatkannya lagi. Sepertinya aku harus mengurus ulang semuanya. Memulainya dari awal lagi. Aduh padahal aku malas untuk urus-urus gituan.

            Teman-temanpun menawarkan agar aku ke kantor polisi, untuk mengurus surat-suratnya, karena melihatku yang tiap mau keluar asrama jadi was-was tanpanya. Akhirnya tiba dimana aku mengunjungi salah satu kantor polisi di daerah Makassar ini. Mengantri dengan sedikit kesel ketika ada orang lain yang menyerobos masuk tanpa ikut antri. Aduh Indonesiaku.

            Kantor polisi identik dengan hal-hal yang berbauh kriminal. Hari itu tepatnya saat kedatangan kami, ada satu kasus baru pencurian uang ratusan juta dalam suatu kendaraaan. Aku dan Veer yang menemaniku hari itu merasa kasihan pada bapak yang mengaduh tentang kasus tersebut. Pasalnya, yang punya uang jutaan itu bukan bapak itu, tetapi dia hanya mengambil uang itu atas perintah atasannya. Kemudian hilang begitu saja, saat bapak itu sedang melakukan tugasnya. Malang niang nasibnya, sabar pak!

            Tiba giliranku mengadu tentang keperluanku datang ke kantor polisi. Setelah menjelaskan semuanya, salah satu bapak polisi yang menangani masalahku meminta KTP, hanya saja ada KTP lama. Aku mulai mempersiapkan nominal uang 20-an setelah melihat orang lain sebelumnya membayar ke polisi yang bertugas itu dengan masalah yang serupa.

            “Di Barru mana?” Tanya polisi itu, setelah melihat KTP ku.

            Aku pun menjawab seadanya dengan apa yang dipertanyakan. Sebab aku juga dari kecil takut dengan namanya polisi. Tapi beda dengan polisi di pos penjagaan Sentral dekat MTC dulu. Aku dan teman-teman yang lain hanya bercanda gurau ketika polisi itu memberhentikan kami. Meskipun kami mengaku salah karena saat itu belum punya SIM. Polisi itu juga menanyakan banyak hal pada kami, bahkan meminta ingin diajarkan mengaji oleh salah satu teman yang tercantik diantara kami. Aduh pak itu mah gombalan, ingat istri di rumah.

            Kembali ke polisi yang tadi mengurus masalahku .. Ternyata polisi yang menangani kasusku ini juga orang Barru atau pernah bertugas di daerah Barru. Hari itu kurang jelas terdengar. Akhirnya surat kehilangan pun jadi, KTP, SIM dan bukti pembayaran SPP yang semuanya penting akhirnya ada surat sementara untuk membantu. Aku pun tidak mendapat bayaran apa-apa alias gratis saat itu. Mungkin karena aku orang Barru dan kebetulan polisi yang menanganinya juga orang Barru. Makasih pak…

            Kini,  KTP, SIM dan bukti pembayaran SPP ku kembali. Ternyata terjatuh di belakang lemari TV di rumah keluarga dari Bapak. Saat itu aku berkunjung dalam rangkah acara pernikahan saudara bapak. Kupikir dompetnya terjatuh di jalan ketika aku mengantar sepupu berbelanja yang lumayan jauh dari rumah.

            “Uangnya di ambil sama om kamu” kata Bapak ketika menyodorkan dompet itu padaku, sembari tersenyum tanda om ku itu memang jail.

            Kata Bapak, uangnya di belikan rokok karena lagi kehabisan rokok tapi tiba-tiba dapat dompetku. Ya tidak apalah, hanya saja kenapa untuk dibelikan rokok. Aduh om, lagian uangnya Cuma sisa belanjaan cemilan sepupu hari itu  … Akhirnya balik juga.. Tidak perlu khawatir lagi sama polisi-polisi itu.. Insya Allah lengkap.