Lama tak jumpa, tapi pas berjumpa langsung mengajakmu untuk
menemaniku keluar kampus. bertindak
sebagai pengawal yang menjagaku dari para polisi-polisi yang biasanya menunggu
mangsa di pinggir jalan.
Setelah
kegiatan MUBES (Musyawarah Besar) di Bantimurung usai. Tepatnya aku sedang
dalam perjalanan pulang, Bapak menelponku. Menanyakan posisi keberadaanku dan
memberi kabar gembira. Sontak aku kaget dengan suara yang sedikit meninggi.
“Serius, pak? alhamdulillah” kataku
Cukup lama
aku mencari dan menunggu kabarnya, tapi tak kunjung tiba. Bahkan ketika aku
yakin, sudah tak mungkin aku bisa
mendapatkannya lagi. Sepertinya aku harus mengurus ulang semuanya. Memulainya
dari awal lagi. Aduh padahal aku malas untuk urus-urus gituan.
Teman-temanpun
menawarkan agar aku ke kantor polisi, untuk mengurus surat-suratnya, karena
melihatku yang tiap mau keluar asrama jadi was-was tanpanya. Akhirnya tiba
dimana aku mengunjungi salah satu kantor polisi di daerah Makassar ini.
Mengantri dengan sedikit kesel ketika ada orang lain yang menyerobos masuk tanpa
ikut antri. Aduh Indonesiaku.
Kantor
polisi identik dengan hal-hal yang berbauh kriminal. Hari itu tepatnya saat
kedatangan kami, ada satu kasus baru pencurian uang ratusan juta dalam suatu
kendaraaan. Aku dan Veer yang menemaniku hari itu merasa kasihan pada bapak
yang mengaduh tentang kasus tersebut. Pasalnya, yang punya uang jutaan itu
bukan bapak itu, tetapi dia hanya mengambil uang itu atas perintah atasannya.
Kemudian hilang begitu saja, saat bapak itu sedang melakukan tugasnya. Malang
niang nasibnya, sabar pak!
Tiba
giliranku mengadu tentang keperluanku datang ke kantor polisi. Setelah
menjelaskan semuanya, salah satu bapak polisi yang menangani masalahku meminta
KTP, hanya saja ada KTP lama. Aku mulai mempersiapkan nominal uang 20-an
setelah melihat orang lain sebelumnya membayar ke polisi yang bertugas itu dengan masalah
yang serupa.
“Di Barru
mana?” Tanya polisi itu, setelah melihat KTP ku.
Aku pun
menjawab seadanya dengan apa yang dipertanyakan. Sebab aku juga dari kecil
takut dengan namanya polisi. Tapi beda dengan polisi di pos penjagaan Sentral
dekat MTC dulu. Aku dan teman-teman yang lain hanya bercanda gurau ketika
polisi itu memberhentikan kami. Meskipun kami mengaku salah karena saat itu
belum punya SIM. Polisi itu juga menanyakan banyak hal pada kami, bahkan
meminta ingin diajarkan mengaji oleh salah satu teman yang tercantik diantara
kami. Aduh pak itu mah gombalan, ingat istri di rumah.
Kembali ke
polisi yang tadi mengurus masalahku
.. Ternyata polisi yang menangani kasusku ini juga orang Barru atau pernah
bertugas di daerah Barru. Hari itu kurang jelas terdengar. Akhirnya surat
kehilangan pun jadi, KTP, SIM dan bukti pembayaran SPP yang semuanya penting
akhirnya ada surat sementara untuk membantu. Aku pun tidak mendapat bayaran
apa-apa alias gratis saat itu. Mungkin karena aku orang Barru dan kebetulan
polisi yang menanganinya juga orang Barru. Makasih pak…
Kini, KTP, SIM dan bukti pembayaran SPP ku kembali.
Ternyata terjatuh di belakang lemari TV di rumah keluarga dari Bapak. Saat itu
aku berkunjung dalam rangkah acara pernikahan saudara bapak. Kupikir dompetnya
terjatuh di jalan ketika aku mengantar sepupu berbelanja yang lumayan jauh dari
rumah.
“Uangnya di
ambil sama om kamu” kata Bapak ketika menyodorkan dompet itu padaku, sembari
tersenyum tanda om ku itu memang jail.
Kata Bapak,
uangnya di belikan rokok karena lagi kehabisan rokok tapi tiba-tiba dapat
dompetku. Ya tidak apalah, hanya saja kenapa untuk dibelikan rokok. Aduh om, lagian
uangnya Cuma sisa belanjaan cemilan sepupu hari itu … Akhirnya balik
juga.. Tidak perlu khawatir lagi sama polisi-polisi itu.. Insya Allah lengkap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar