Kamis, 11 Februari 2016

Akhirnya kembali



           Lama tak jumpa, tapi pas berjumpa langsung mengajakmu untuk menemaniku keluar kampus.  bertindak sebagai pengawal yang menjagaku dari para polisi-polisi yang biasanya menunggu mangsa di pinggir jalan.

            Setelah kegiatan MUBES (Musyawarah Besar) di Bantimurung usai. Tepatnya aku sedang dalam perjalanan pulang, Bapak menelponku. Menanyakan posisi keberadaanku dan memberi kabar gembira. Sontak aku kaget dengan suara yang sedikit meninggi. “Serius, pak? alhamdulillah” kataku

            Cukup lama aku mencari dan menunggu kabarnya, tapi tak kunjung tiba. Bahkan ketika aku yakin, sudah tak mungkin  aku bisa mendapatkannya lagi. Sepertinya aku harus mengurus ulang semuanya. Memulainya dari awal lagi. Aduh padahal aku malas untuk urus-urus gituan.

            Teman-temanpun menawarkan agar aku ke kantor polisi, untuk mengurus surat-suratnya, karena melihatku yang tiap mau keluar asrama jadi was-was tanpanya. Akhirnya tiba dimana aku mengunjungi salah satu kantor polisi di daerah Makassar ini. Mengantri dengan sedikit kesel ketika ada orang lain yang menyerobos masuk tanpa ikut antri. Aduh Indonesiaku.

            Kantor polisi identik dengan hal-hal yang berbauh kriminal. Hari itu tepatnya saat kedatangan kami, ada satu kasus baru pencurian uang ratusan juta dalam suatu kendaraaan. Aku dan Veer yang menemaniku hari itu merasa kasihan pada bapak yang mengaduh tentang kasus tersebut. Pasalnya, yang punya uang jutaan itu bukan bapak itu, tetapi dia hanya mengambil uang itu atas perintah atasannya. Kemudian hilang begitu saja, saat bapak itu sedang melakukan tugasnya. Malang niang nasibnya, sabar pak!

            Tiba giliranku mengadu tentang keperluanku datang ke kantor polisi. Setelah menjelaskan semuanya, salah satu bapak polisi yang menangani masalahku meminta KTP, hanya saja ada KTP lama. Aku mulai mempersiapkan nominal uang 20-an setelah melihat orang lain sebelumnya membayar ke polisi yang bertugas itu dengan masalah yang serupa.

            “Di Barru mana?” Tanya polisi itu, setelah melihat KTP ku.

            Aku pun menjawab seadanya dengan apa yang dipertanyakan. Sebab aku juga dari kecil takut dengan namanya polisi. Tapi beda dengan polisi di pos penjagaan Sentral dekat MTC dulu. Aku dan teman-teman yang lain hanya bercanda gurau ketika polisi itu memberhentikan kami. Meskipun kami mengaku salah karena saat itu belum punya SIM. Polisi itu juga menanyakan banyak hal pada kami, bahkan meminta ingin diajarkan mengaji oleh salah satu teman yang tercantik diantara kami. Aduh pak itu mah gombalan, ingat istri di rumah.

            Kembali ke polisi yang tadi mengurus masalahku .. Ternyata polisi yang menangani kasusku ini juga orang Barru atau pernah bertugas di daerah Barru. Hari itu kurang jelas terdengar. Akhirnya surat kehilangan pun jadi, KTP, SIM dan bukti pembayaran SPP yang semuanya penting akhirnya ada surat sementara untuk membantu. Aku pun tidak mendapat bayaran apa-apa alias gratis saat itu. Mungkin karena aku orang Barru dan kebetulan polisi yang menanganinya juga orang Barru. Makasih pak…

            Kini,  KTP, SIM dan bukti pembayaran SPP ku kembali. Ternyata terjatuh di belakang lemari TV di rumah keluarga dari Bapak. Saat itu aku berkunjung dalam rangkah acara pernikahan saudara bapak. Kupikir dompetnya terjatuh di jalan ketika aku mengantar sepupu berbelanja yang lumayan jauh dari rumah.

            “Uangnya di ambil sama om kamu” kata Bapak ketika menyodorkan dompet itu padaku, sembari tersenyum tanda om ku itu memang jail.

            Kata Bapak, uangnya di belikan rokok karena lagi kehabisan rokok tapi tiba-tiba dapat dompetku. Ya tidak apalah, hanya saja kenapa untuk dibelikan rokok. Aduh om, lagian uangnya Cuma sisa belanjaan cemilan sepupu hari itu  … Akhirnya balik juga.. Tidak perlu khawatir lagi sama polisi-polisi itu.. Insya Allah lengkap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar