Kamis, 02 Juni 2016

Teman-teman kecilku



            Dapat kabar dari teman SD di BBM, katanya: “Si A mau merid tanggal 29 Mei”, ya panggil saja dia si A. hehehe… Rencanapun untuk pulang terealisasi meskipun rencananya hanya PP (Pulang Pergi) bukan pergi pergi loh, sebab salah satu teman SD sengaja pinjam mobil tantenya untuk kami teman-temannya dari Makassar.
            “Kami sudah di dalam kampus UIN, dimana asramanya?” kata temanku yang tak lain adalah tetanggaku di kampung.
            Meskipun sudah dijelaskan letaknya tetap saja mereka nyasar ke asrama lain, aduh. Bukan bermaksud balas dendam karena sudah membuatku menunggu terlalu lama, bayangkan saja siap menunggu dari siang tapi datangnya habis magrib, lamanya. Akupun tak sengaja membuat mereka menunggu, karena habis magrib itu, kebiasaan tinggal asrama ya ada rapat asrama gitu. Akhirnya saya terjebak dan tidak bisa keluar asrama, sebab jalur pintu keluar dipenuhi kaum lelaki yang sedang rapat. Berkali-kali handphoneku berdering, panggilan dari teman-teman yang sudah menunggu. Bahkan saya sempat ingin mengatakan tidak jadi berangkat jika keadaannya sudah seperti ini. Tapi setelah dipikir-pikir tidak baik juga sebab mereka sudah buang waktu kesini jemput saya jauh-jauh.
            Setengah jam berlalu saya tidak berani menggangu ustadz yang juga pernah membina kami di asrama ini, yang sedang berbicara serius membicarakan tentang asrama. Tapi tiba-tiba beliau menegur ketika HP ku tak henti berdering.
            “Silent hapenya!” Sontak semua beralih ke saya yang sedari tadi teman-teman perempuan sudah merasakan kegelisahanku. Itupun menjadi kesempatanku untuk meminta izin.
            “Maaf ustadz, sebenarnya saya mau minta izin pulang kampung, mobil jemputannya sudah menunggu diluar” kataku gugup.
            Setelah ditanya-tanya oleh beliau tentang sudah izin atau belum sama Pembina asrama yang sedang tidak berada di asrama waktu itu dan juga minta izin sama Pembina yang lain. Saya pun diberi izin pulang dan menyuruh lelaki untuk membuka jalan untukku, yang menutupi pintu masuk asrama. Hmm layaknya apa gitu, Aduh terasa eksis seketika di hadapan mereka. Maaf!
            Berlanjut di mobil, saya mengeluarkan keluh kesahku yang menunggu mereka terlalu lama. Bahkan ada teman cewek yang tak jadi berangkat karena terlalu sebentar jika harus berangkat malam begini dan harus balik ke Makassar lagi nanti menjelang subuh, tepar di jalan kalau gitu. Barru-Makassar lumayan jauh, kurang lebih 100 km.
            “Hem, Mega jangan jadi Risna ya nanti !” celetuk temanku yang menyupiri kami malam itu, dengan nada mengejek.
            “Apa? Astaqfirullah. Memangnya saya sama si A ada hubungan apa? Aduh.” Jawabku kesal. Siapa yang tak kesal jika dikatain seperti itu, layaknya kisah Risna yang datang dipernikahan kekasihnya.
            Akhirnya perbincangan berlanjut ke kisah-kisah Sekolah Dasar dulu, bayangkan saja lama tak pernah ketemu satu sama lain. Bahkan teman cewek yang disampingku namanya Indah bisa dibilang 5 tahun baru ketemu, padahal tetangga dusun. Terakhir ketemu waktu SMA kelas satu, tapi masih tetap sama orangnya J .
            Mereka terus mengejekku sepanjang jalan Makassar yang macet itu. Aku bahkan menceritakan ke mereka, saking tidak sukanya di ejek sama lelaki, saya selalu nangis waktu kecil dulu ketika adik saya sendiri mengejek saya dengan si A. Tidak disekolah, di rumahpun mendapat ejekan, tapi itu jurus jitu adikku ketika ingin menang dari saya saat kami sedang bertengkar. Jika dia sudah sebut nama si A, saya langsung nangis, kalah.
            Saya langsung teringat sama salah satu teman SD juga yang sekarang lagi kerja di Kalimantan. Orangnya sangat humoris bahkan terkadang saya malas angkat telponnya karena pasti akan capek ketawa terus. Temanku itu pernah bahas si A waktu nelpon, untung dia nggak hadir diacaranya si A, hampir saya semakin parah diejekin.  
“Sebenarnya saya dengan si A ada hubungan apa, padahal tidak ada apa-apa kok.” Kesalku.
“Kamu hanya tak tahu saja Ga’ kalau dulu itu nah kamu jadi rebutan, bahkan sekarang mungkin kamu juga masih gitu, makanya saya tidak percaya ketika kamu bilang nggak punya pacar. Masa sih nggak punya” tutur temanku itu dengan logat kalimantannya.
Saya jadinya sok-sok tak tahu padahal ngerasa sih, hehehe kepedean. Sebab saya masih ingat dulu ketika teman-teman cowokku itu sering datang ke rumah dengan alasan mau belajar bareng, bahkan sempat dimarahi sama orangtua salah satu teman cewekku karena memanggilnya keluar malam untuk ikutan ke rumahku belajar malam. Aduhh kisah anak-anak kita lucu.
“Hem beneran nggak ada. Nggak mesti punya pacar kan? Masa kuliah free dari pacar-pacaran, lagian pacaran itu tidak dibenarkan dalam Islam. jomblo sampai halal” tanggapku dari balik telepon.
“Yayaya.. Hanya saja dulu itu si A yang sudah kapling kamu, katanya tidak boleh diganggu, jadi begitulah kamu terus di ejek sama teman-teman sama si A.”
Pembahasan kembali ke perjalanan. Kendaraan kami masih berada di wilayah Makassar. Bahkan perbincangan tentang saya terus jadi edisi pembicaraan mereka di sepanjang jalan ke Barru. Indah nyeletuk yang juga masih jadi teman SMP setelah lulus dari SD itu.
“Iya nih Mega sadis, bahkan tak ajak bicara si A waktu SMP. Parah kamu Ga’, masih saya ingat sekali itu.” Kata Indah yang membuat teman lain dalam mobil kaget karena diantara mereka ada yang tak lanjut SMP bareng dengan kami.
“Iya maaf. Karena saya tidak suka diejek begitu. Bahkan sudah SMA saya juga pernah nangis  gara-gara diejek sama senior. :) (Serasa difitnah jd nangis hehe) Tapi si A nambah-nambahin terus jadi bagaimana tidak diejek sama teman-teman. Sudah SMP tapi terus diejikin sama si A. Saya dulu masih bersikap anak-anak banget tidak tersentuh merah jambu gitu hehehe. Akhirnya emosi dan tak ajak bicara sampai kelulusan SMP, bayangkan itupun karena bujukan teman-teman yang kasihan sama si A, karena udah lulus-lulusan tapi belum diajak ngomong. Akhirnya dimaafkan, lagian belum saya tahu juga kalau dosa jika lebih dari 3 hari.” Jawabku membela diri.
Karena ingin supaya mereka ganti pembahasan yang terus mengarah ke saya, nanyain siapa yang nyusul si A selanjutnyalah, apalah. Aduhh akhirnya saya juga mengusik kisah merah jambu mereka masing-masing waktu SD. Semuanya terlihat lucu, mengingat kisah lucu. Sebab kisah yang paling lucu ditingkatan sekolah ya waktu Sekolah Dasar karena tingkah imut dan muka imut ya di SD. Hahaha.
Aku pokoknya senang sekali ketemu mereka. Barusan bisa reunian setelah sekian lama tak jumpa, lama sekali. Mereka pun ingin ini bukan pertemuan terakhir tapi berlanjut dalam waktu dekat ini misalnya berbuka puasa bareng.
Tinggalkan Makassar sudah isya, jadinya kami sudah mendapati pengantinnya nggak memakai baju pengantin lagi. Tamu-tamu juga udah bubar tinggal hiburan yang terus mengusik pendengaran rumah-rumah sekitar dengan music diskonya. *tepuk jidat. Kami pun ke kondangan dengan wajah-wajah kusut dan ngantuk, tapi tak apalah. Meskipun lagi-lagi teman-temanku tetap mengejekku dengan si A, untung mempelai perempuannya tak ada, sedang buka kostum di kamar. Jadi salah tingkah kan orangnya. Teman-teman jail.
Rencanya mau kumpul bareng dengan teman-teman SD yang lain tapi katanya sudah pada pulang karena menunggu kami dari Makassar terlalu larut. 23.00 jadi ya wajar kok. Maaf ! Rindu kalian teman-teman kecilku.  


Saat mereka jadi Sang Pengantin

          Dua hari berlalu kita telah ditinggalkan oleh bulan Mei. Bulan yang mana serentak anggota sanad (Student ANd Alumnus Departement ) alias teman-teman dan kakak-kakak alumni Tafsir Hadis melangsungkan pernkahannya. Hal ini membuat para teman-teman baper.

          Tiga dari teman kami telah resmi menjadi milik pasangannya. Itu membuat kami senang dan sedikit sedih karena rasa perhatiaannya akan sedikit berkurang ke teman-temannya. Ya tapi tak apalah, bagaimanapun juga semua akan pergi dan berpisah satu sama lain. Bahkan akan memiliki keluarga masing-masing nantinya.

          Selamat teman-temanku, doa kami selalu yang terbaik untukmu. Semoga sakinah mawaddah dan warahmah dalam rumah tangganya. Tapi jangan terlalu fokus sehingga penyelesaiannya kelupaan. Janji kita kan selesai bareng-bareng kan ?. ingat itu !

          Sedangkan dilingkungan kami menjadi perbincangan yang tak asing lagi yakni seputar itu, yang merupakan sunnah Rasulullah. Alias baper, tapi tetap menunggu dengan terus memperbaiki diri, untuk-Nya. 

          Pernikahan itu ketika hati benar-benar mantap untuk menjalaninya dengan rasa tulus dan ikhlas. Bukan permainan atau hal-hal yang dengan mudah ditetapkan begitu saja. Tetapi butuh pemikiran yang panjang sehingga tak ada penyesalan dan hati yang keruh nantinya.




        
         
 Kata teman-teman dengan candaannya, “Teori sudah full, tinggal aplikasinya”
          Bagaimana tidak, pembahasan skripsi mengarah kesana. Hampir semua buku-buku yang berbau pernikahan sudah saya baca. Jadi tidak salah ketika teman-teman beranggapan seperti itu. hehehe Ya semua tergantung yang Maha Pemberi. Saya hanya bisa berdo’a yang terbaik.

Rabu, 01 Juni 2016

MTQ XXIX Tingkat Provinsi SUL-SEL in Barru



            Selamat Datang para kafilah-kafilah MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Tahun XXIX ini diadakan di Barru sebagai tuan rumah. Sebagaimana diketahui bahwa MTQ ini telah ada cukup lama sejak 1940-an yang didirikan oleh ormas terbesar NU. Saya sebagai tuan rumah alias yang berpendudukan Barru pada Kartu Tanda Pendudukku, berucap “Welcome in my city” :)



Bersainglah secara sportif! dengan tetap sadar diri bahwa ini MTQ, Q berarti Al-Qur’an yang merupakan pedoman utama mesti dijunjung tinggi sesuai hak yang semestinya. Buat teman-teman, adek-adek dan kakak-kakak yang lomba, moga semua tetap yang terbaik, meskipun dalam pertarungan ada menang dan tentu ada yang harus kalah. Makanya bingung juga mau juarain siapa, seperti contohnya saudara Cece Miranhy & Veer ini yang saingan membawakan kampungku semua hhh (Barru vs Gowa) :) yang seyogianya bawa calon kampungnya masing-masing juga. upss Peace, begitu kah?
            Jadi teringat waktu aliyah disuruh mewakili salah satu desa saat MTQ Kabupaten Polman. Hhh Saya yang juga masih tahap belajar disuruh ikut cerdas cermat, padahal jauh dari kata cerdas saya mah.. J Meskipun sudah berusaha ya ternyata tidak memuaskan hasilnya. Baju batik kontingen pun masih tersimpan di lemari sampai saat ini sebagai kenangan pernah ikut, setidaknya pengalaman. Hhh
            Semangat buat semuanya, juga buat Andi Raita, Sulaiman, Veer, Cece. Teruslah kepakkan sayap kalian agar bisa terbang tinggi melebihi yang lain. Cayoo.. kami mendukungmu…
Niat awalnya bukan untuk menjenguk kalian yang sedang berada di kampungku, J *Lagian kalau izinnya itu, pasti tidak diizinkan sama Pembina kita… Tapi memang ada keperluan lain yang mengharuskan pulkam, karena ada waktu luang sayapun sempatkan mau nengokin kalian di posko kontingen masing-masing. Tapi ternyata semua sedang berada di Mesjid Masdarul Bir Sumpang Binangae menyaksikan Andi Raita lomba tafsir 30 juz bahasa Indonesia.
Awalnya saya ragu untuk pergi, bahkan saking ragunya saya pinjam motor sepupu dikasih STNK motor dan tak memberitahukan pada sepupuku itu kalau saya lupa bawa SIM dan KTP dari Makassar. Saya takut tidak diizinkan jika saya memberitahukanya, padahal ingin sekali jengukin kalian. Terlebih katanya akhir-akhir ini menjelang ramadhan sering ada pemeriksaan pengendara begitu di pinggir jalan. Hanya bermodalkan doa dan terus bershalawat sepanjang jalan poros Barru, berharap tak terjadi apa-apa, terlebih kedapat sama police.
Karena mesjid yang diberitahukan Cece dan Veer kurang jelas lokasinya, akhirnya sayapun bertanya pada 3 orang anak SMA yang lagi nongkrong di pinggir jalan. Mereka pun kebingungan dan tak tahu mesjid yang saya pertanyakan ke mereka itu. Bahkan mereka  menjelaskan yang lain, walaupun sebenarnya saya juga sudah tahu itu, hahaha mereka mungkin mengira saya bukan orang Barru atau orang jauh yang tinggalnya di perbatasan kota Barru. Jadilah saya seakan sok tidak tahu apa-apa dihadapannya. J
Akhirnya sayapun tiba di Mesjid itu dengan melewati kantor polisi dekat lapangan Sumpang Binangae Barru, untung tidak singgah di kantor polisinya. Meskipun Andi Raita sudah sementara tampil di podium, tapi sudahlah yang terpenting penampilannya dengan nilai tertinggi putri. Membanggakan Barru Andi Raita.
  
Perjalanan berlanjut ke Gedung Islamic Center Barru. Gedung ini juga termasuk gedung yang baru dibangun di Barru, layaknya Alun-Alun Puji’e, meskipun pembangunannya lumayan berjarak. Perkenalkan namanya Cece Mirani, sekarang teman sekamarku di tahun terakhir perkuliahan yang juga satu kampung denganku, meskipun sudah 2 tahun sekamar dengannya. Rumahnya Cece yang berkerudung coklat ini, tak jauh dari kota Barru tepatnya di Jl. Pramuka, yang nanti kita akan jalan-jalan kesana. Kata saudara yang ada keturunan cinanya ini, suatu saat jika waktunya telah tiba meskipun masih belum tahu kapan, “Ingin melansungkan a**d di gedung ini nantinya, kan sudah dekat dari rumah.” *… Didoakan yang terbaik pokoknya.


Lihat cowok manis ditengah-tengah kami? Kenalkan namanya Rafli, eh maksudku Irwan. Soalnya mirip Rafly DA apalagi senyum sambil nyanyi. Kami sampai di gedung Islamic Center dengan penampilan nyanyi solo anak-anak dengan anak cowok yang terus menebar senyum manisnya sembari berjoget tanpa malu dengan penonton yang berhujanan di hadapannya. *Lucunya, aku fens mu dek… Ya, itulah penampilan si dek Iwan ini.
Setelah nyanyi, dek Irwan masih berada di samping panggung sebagai backing vocal untuk penyanyi selanjutnya, dan terus senyum ke arah rombongan kami. Setelah peserta selanjutnya, Irwanpun Turun bergabung dengan kontingennya dan kami hanya menerima senyumnya dan lupa minta foto yang sedari tadi sudah dirancang bersama. Akhirnya tak hentinya saya dan Veer mencari sosoknya. Tak beberapa lama, kami bertiga menghampiri kontingennya dan disambut oleh mereka. Kata bapak-bapak disampingnya “Ciee sudah ada fensnya” J ditanya-tanya ternyata dek Irwan dari kontingen Pare-Pare.
Selanjutnya perjalanan menuju rumah Cece, dimana jam menunjukkan waktu shalat azhar. Karena motor hanya satu jadi setelah mengantar Cece, saya kembali menjemput Veer yang menunggu sendiri di gedung IC dan lagi-lagi lewat jalan poros kota melewati kantor police dengan boncengan yang lagi-lagi tak pake helm. Bertambah kesalahannya, aduhh.
Veer: “Kalau ditilan, Bilang saja kami ini peserta MTQ yang mewakili Barru” haha hmm emang alasannya bisa diterima? J Tapi ujung-ujungnya selamat sampai tujuan.
Tibalah di kediaman Cece Mirany. Berbincang-bincang dengan nenek Dena dengan keluarganya. Perbicaraannya mengalir begitu saja, membicarakan soal siapa kami ini sebagai teman Cece walaupun ini bukan pertama kali kami datang ke rumahnya, bincang-bincang tentang MTQ dan tak terasa suguhan teh panas telah habis sambil  mencicipi kuenya. Habis shalat kami tak sabar menuju rel kereta api.
Ya, pas dihadapan rumah Cece terbentang rel kereta api yang hampir setinggi dengan pohon kelapa. Ya sabar saja kena guncangan, angin kencang berhembus dengan suaranya yang lumayan. Awal tiba disitu, saya kaget dengan hilangnya rumah warga yang waktu saya datang pertama kalinya disini banyak rumah tetangga di hadapan rumah cece. Tapi semua telah tergusur entah pindah kemana. Bahkan ada rumah yang hanya tertinggal terasnya yang dikira terminal/halte kereta api.. hhh
Hem keren, Pare-Makassar siap beroperasi via kereta api. Tapi entah kelarnya kapan, tak tahu juga. Kabar sementara target 2018, hem tapi bisa saja molor. Semoga kelar secepatnya. Kamipun sempatkan ambil gambar di relnya sebelum kereta apinya lalu lalang. :) takuttt


Ehh lupa, sebelum malam mejemput, saya antar Veer ke posko kontingennya dan disempatkan singgah sebentar sekedar melihat situasi rumah posko yang katanya itu rumah kosong yang dijadikan posko. Memang betul terlihat mencekam dari luar dan terlebih kamar-kamar yang terbuka lebar dan ruangan lain yang aneh. Rencananya ingin kembali berkumpul nanti malam di alun-alun kota Barru sebab ramai jika malam tiba terlebih saat MTQ ini bahkan di lapangan alun-alun itu disediakan wifi gratis. Kerenkan MTQ nya. Tapi karena saya kesorean pulang jadi tak enak lagi minta izin keluar malam dan juga besok pagi sudah ingin balik ke Makassar. Tapi sebelum pulang dari sana, saya di cepret -cepret dulu sama bocah yang ada keturunan Pakistannya ini. Gantengnya anak ini :)