Rabu, 01 Juni 2016

MTQ XXIX Tingkat Provinsi SUL-SEL in Barru



            Selamat Datang para kafilah-kafilah MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Tahun XXIX ini diadakan di Barru sebagai tuan rumah. Sebagaimana diketahui bahwa MTQ ini telah ada cukup lama sejak 1940-an yang didirikan oleh ormas terbesar NU. Saya sebagai tuan rumah alias yang berpendudukan Barru pada Kartu Tanda Pendudukku, berucap “Welcome in my city” :)



Bersainglah secara sportif! dengan tetap sadar diri bahwa ini MTQ, Q berarti Al-Qur’an yang merupakan pedoman utama mesti dijunjung tinggi sesuai hak yang semestinya. Buat teman-teman, adek-adek dan kakak-kakak yang lomba, moga semua tetap yang terbaik, meskipun dalam pertarungan ada menang dan tentu ada yang harus kalah. Makanya bingung juga mau juarain siapa, seperti contohnya saudara Cece Miranhy & Veer ini yang saingan membawakan kampungku semua hhh (Barru vs Gowa) :) yang seyogianya bawa calon kampungnya masing-masing juga. upss Peace, begitu kah?
            Jadi teringat waktu aliyah disuruh mewakili salah satu desa saat MTQ Kabupaten Polman. Hhh Saya yang juga masih tahap belajar disuruh ikut cerdas cermat, padahal jauh dari kata cerdas saya mah.. J Meskipun sudah berusaha ya ternyata tidak memuaskan hasilnya. Baju batik kontingen pun masih tersimpan di lemari sampai saat ini sebagai kenangan pernah ikut, setidaknya pengalaman. Hhh
            Semangat buat semuanya, juga buat Andi Raita, Sulaiman, Veer, Cece. Teruslah kepakkan sayap kalian agar bisa terbang tinggi melebihi yang lain. Cayoo.. kami mendukungmu…
Niat awalnya bukan untuk menjenguk kalian yang sedang berada di kampungku, J *Lagian kalau izinnya itu, pasti tidak diizinkan sama Pembina kita… Tapi memang ada keperluan lain yang mengharuskan pulkam, karena ada waktu luang sayapun sempatkan mau nengokin kalian di posko kontingen masing-masing. Tapi ternyata semua sedang berada di Mesjid Masdarul Bir Sumpang Binangae menyaksikan Andi Raita lomba tafsir 30 juz bahasa Indonesia.
Awalnya saya ragu untuk pergi, bahkan saking ragunya saya pinjam motor sepupu dikasih STNK motor dan tak memberitahukan pada sepupuku itu kalau saya lupa bawa SIM dan KTP dari Makassar. Saya takut tidak diizinkan jika saya memberitahukanya, padahal ingin sekali jengukin kalian. Terlebih katanya akhir-akhir ini menjelang ramadhan sering ada pemeriksaan pengendara begitu di pinggir jalan. Hanya bermodalkan doa dan terus bershalawat sepanjang jalan poros Barru, berharap tak terjadi apa-apa, terlebih kedapat sama police.
Karena mesjid yang diberitahukan Cece dan Veer kurang jelas lokasinya, akhirnya sayapun bertanya pada 3 orang anak SMA yang lagi nongkrong di pinggir jalan. Mereka pun kebingungan dan tak tahu mesjid yang saya pertanyakan ke mereka itu. Bahkan mereka  menjelaskan yang lain, walaupun sebenarnya saya juga sudah tahu itu, hahaha mereka mungkin mengira saya bukan orang Barru atau orang jauh yang tinggalnya di perbatasan kota Barru. Jadilah saya seakan sok tidak tahu apa-apa dihadapannya. J
Akhirnya sayapun tiba di Mesjid itu dengan melewati kantor polisi dekat lapangan Sumpang Binangae Barru, untung tidak singgah di kantor polisinya. Meskipun Andi Raita sudah sementara tampil di podium, tapi sudahlah yang terpenting penampilannya dengan nilai tertinggi putri. Membanggakan Barru Andi Raita.
  
Perjalanan berlanjut ke Gedung Islamic Center Barru. Gedung ini juga termasuk gedung yang baru dibangun di Barru, layaknya Alun-Alun Puji’e, meskipun pembangunannya lumayan berjarak. Perkenalkan namanya Cece Mirani, sekarang teman sekamarku di tahun terakhir perkuliahan yang juga satu kampung denganku, meskipun sudah 2 tahun sekamar dengannya. Rumahnya Cece yang berkerudung coklat ini, tak jauh dari kota Barru tepatnya di Jl. Pramuka, yang nanti kita akan jalan-jalan kesana. Kata saudara yang ada keturunan cinanya ini, suatu saat jika waktunya telah tiba meskipun masih belum tahu kapan, “Ingin melansungkan a**d di gedung ini nantinya, kan sudah dekat dari rumah.” *… Didoakan yang terbaik pokoknya.


Lihat cowok manis ditengah-tengah kami? Kenalkan namanya Rafli, eh maksudku Irwan. Soalnya mirip Rafly DA apalagi senyum sambil nyanyi. Kami sampai di gedung Islamic Center dengan penampilan nyanyi solo anak-anak dengan anak cowok yang terus menebar senyum manisnya sembari berjoget tanpa malu dengan penonton yang berhujanan di hadapannya. *Lucunya, aku fens mu dek… Ya, itulah penampilan si dek Iwan ini.
Setelah nyanyi, dek Irwan masih berada di samping panggung sebagai backing vocal untuk penyanyi selanjutnya, dan terus senyum ke arah rombongan kami. Setelah peserta selanjutnya, Irwanpun Turun bergabung dengan kontingennya dan kami hanya menerima senyumnya dan lupa minta foto yang sedari tadi sudah dirancang bersama. Akhirnya tak hentinya saya dan Veer mencari sosoknya. Tak beberapa lama, kami bertiga menghampiri kontingennya dan disambut oleh mereka. Kata bapak-bapak disampingnya “Ciee sudah ada fensnya” J ditanya-tanya ternyata dek Irwan dari kontingen Pare-Pare.
Selanjutnya perjalanan menuju rumah Cece, dimana jam menunjukkan waktu shalat azhar. Karena motor hanya satu jadi setelah mengantar Cece, saya kembali menjemput Veer yang menunggu sendiri di gedung IC dan lagi-lagi lewat jalan poros kota melewati kantor police dengan boncengan yang lagi-lagi tak pake helm. Bertambah kesalahannya, aduhh.
Veer: “Kalau ditilan, Bilang saja kami ini peserta MTQ yang mewakili Barru” haha hmm emang alasannya bisa diterima? J Tapi ujung-ujungnya selamat sampai tujuan.
Tibalah di kediaman Cece Mirany. Berbincang-bincang dengan nenek Dena dengan keluarganya. Perbicaraannya mengalir begitu saja, membicarakan soal siapa kami ini sebagai teman Cece walaupun ini bukan pertama kali kami datang ke rumahnya, bincang-bincang tentang MTQ dan tak terasa suguhan teh panas telah habis sambil  mencicipi kuenya. Habis shalat kami tak sabar menuju rel kereta api.
Ya, pas dihadapan rumah Cece terbentang rel kereta api yang hampir setinggi dengan pohon kelapa. Ya sabar saja kena guncangan, angin kencang berhembus dengan suaranya yang lumayan. Awal tiba disitu, saya kaget dengan hilangnya rumah warga yang waktu saya datang pertama kalinya disini banyak rumah tetangga di hadapan rumah cece. Tapi semua telah tergusur entah pindah kemana. Bahkan ada rumah yang hanya tertinggal terasnya yang dikira terminal/halte kereta api.. hhh
Hem keren, Pare-Makassar siap beroperasi via kereta api. Tapi entah kelarnya kapan, tak tahu juga. Kabar sementara target 2018, hem tapi bisa saja molor. Semoga kelar secepatnya. Kamipun sempatkan ambil gambar di relnya sebelum kereta apinya lalu lalang. :) takuttt


Ehh lupa, sebelum malam mejemput, saya antar Veer ke posko kontingennya dan disempatkan singgah sebentar sekedar melihat situasi rumah posko yang katanya itu rumah kosong yang dijadikan posko. Memang betul terlihat mencekam dari luar dan terlebih kamar-kamar yang terbuka lebar dan ruangan lain yang aneh. Rencananya ingin kembali berkumpul nanti malam di alun-alun kota Barru sebab ramai jika malam tiba terlebih saat MTQ ini bahkan di lapangan alun-alun itu disediakan wifi gratis. Kerenkan MTQ nya. Tapi karena saya kesorean pulang jadi tak enak lagi minta izin keluar malam dan juga besok pagi sudah ingin balik ke Makassar. Tapi sebelum pulang dari sana, saya di cepret -cepret dulu sama bocah yang ada keturunan Pakistannya ini. Gantengnya anak ini :) 
 


 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar