Selamat
Datang para kafilah-kafilah MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Tahun XXIX ini
diadakan di Barru sebagai tuan rumah. Sebagaimana diketahui bahwa MTQ ini telah
ada cukup lama sejak 1940-an yang didirikan oleh ormas terbesar NU. Saya
sebagai tuan rumah alias yang berpendudukan Barru pada Kartu Tanda Pendudukku,
berucap “Welcome in my city” :)
Bersainglah secara sportif! dengan
tetap sadar diri bahwa ini MTQ, Q berarti Al-Qur’an yang merupakan pedoman
utama mesti dijunjung tinggi sesuai hak yang semestinya. Buat teman-teman,
adek-adek dan kakak-kakak yang lomba, moga semua tetap yang terbaik, meskipun dalam
pertarungan ada menang dan tentu ada yang harus kalah. Makanya bingung juga mau
juarain siapa, seperti contohnya saudara Cece Miranhy & Veer ini yang
saingan membawakan kampungku semua hhh (Barru vs Gowa) :) yang seyogianya bawa
calon kampungnya masing-masing juga. upss Peace, begitu kah?
Jadi
teringat waktu aliyah disuruh mewakili salah satu desa saat MTQ Kabupaten
Polman. Hhh Saya yang juga masih tahap belajar disuruh ikut cerdas cermat,
padahal jauh dari kata cerdas saya mah.. J Meskipun sudah berusaha ya ternyata tidak memuaskan
hasilnya. Baju batik kontingen pun masih tersimpan di lemari sampai saat ini
sebagai kenangan pernah ikut, setidaknya pengalaman. Hhh
Semangat
buat semuanya, juga buat Andi Raita, Sulaiman, Veer, Cece. Teruslah kepakkan
sayap kalian agar bisa terbang tinggi melebihi yang lain. Cayoo.. kami mendukungmu…
Niat awalnya bukan untuk menjenguk
kalian yang sedang berada di kampungku, J *Lagian kalau izinnya itu, pasti tidak diizinkan sama
Pembina kita… Tapi memang ada keperluan lain yang mengharuskan pulkam, karena
ada waktu luang sayapun sempatkan mau nengokin kalian di posko kontingen
masing-masing. Tapi ternyata semua sedang berada di Mesjid Masdarul Bir Sumpang
Binangae menyaksikan Andi Raita lomba tafsir 30 juz bahasa Indonesia.
Awalnya saya ragu untuk pergi,
bahkan saking ragunya saya pinjam motor sepupu dikasih STNK motor dan tak
memberitahukan pada sepupuku itu kalau saya lupa bawa SIM dan KTP dari
Makassar. Saya takut tidak diizinkan jika saya memberitahukanya, padahal ingin
sekali jengukin kalian. Terlebih katanya akhir-akhir ini menjelang ramadhan
sering ada pemeriksaan pengendara begitu di pinggir jalan. Hanya bermodalkan
doa dan terus bershalawat sepanjang jalan poros Barru, berharap tak terjadi
apa-apa, terlebih kedapat sama police.
Karena mesjid yang diberitahukan
Cece dan Veer kurang jelas lokasinya, akhirnya sayapun bertanya pada 3 orang
anak SMA yang lagi nongkrong di pinggir jalan. Mereka pun kebingungan dan tak
tahu mesjid yang saya pertanyakan ke mereka itu. Bahkan mereka menjelaskan yang lain, walaupun sebenarnya
saya juga sudah tahu itu, hahaha mereka mungkin mengira saya bukan orang Barru
atau orang jauh yang tinggalnya di perbatasan kota Barru. Jadilah saya seakan
sok tidak tahu apa-apa dihadapannya. J
Akhirnya sayapun tiba di Mesjid itu
dengan melewati kantor polisi dekat lapangan Sumpang Binangae Barru, untung
tidak singgah di kantor polisinya. Meskipun Andi Raita sudah sementara tampil
di podium, tapi sudahlah yang terpenting penampilannya dengan nilai tertinggi
putri. Membanggakan Barru Andi Raita.
Perjalanan berlanjut ke Gedung
Islamic Center Barru. Gedung ini juga termasuk gedung yang baru dibangun di
Barru, layaknya Alun-Alun Puji’e, meskipun pembangunannya lumayan berjarak.
Perkenalkan namanya Cece Mirani, sekarang teman sekamarku di tahun terakhir perkuliahan
yang juga satu kampung denganku, meskipun sudah 2 tahun sekamar dengannya. Rumahnya Cece yang berkerudung coklat ini, tak jauh dari kota Barru tepatnya di
Jl. Pramuka, yang nanti kita akan jalan-jalan kesana. Kata saudara yang ada
keturunan cinanya ini, suatu saat jika waktunya telah tiba meskipun masih belum
tahu kapan, “Ingin melansungkan a**d di gedung ini nantinya, kan sudah dekat dari rumah.” *… Didoakan
yang terbaik pokoknya.
Lihat cowok manis ditengah-tengah
kami? Kenalkan namanya Rafli, eh maksudku Irwan. Soalnya mirip Rafly DA apalagi
senyum sambil nyanyi. Kami sampai di gedung Islamic Center dengan penampilan
nyanyi solo anak-anak dengan anak cowok yang terus menebar senyum manisnya
sembari berjoget tanpa malu dengan penonton yang berhujanan di hadapannya.
*Lucunya, aku fens mu dek… Ya, itulah penampilan si dek Iwan ini.
Setelah nyanyi, dek Irwan masih
berada di samping panggung sebagai backing vocal untuk penyanyi selanjutnya,
dan terus senyum ke arah rombongan kami. Setelah peserta selanjutnya, Irwanpun
Turun bergabung dengan kontingennya dan kami hanya menerima senyumnya dan lupa
minta foto yang sedari tadi sudah dirancang bersama. Akhirnya tak hentinya saya
dan Veer mencari sosoknya. Tak beberapa lama, kami bertiga menghampiri
kontingennya dan disambut oleh mereka. Kata bapak-bapak disampingnya “Ciee
sudah ada fensnya” J
ditanya-tanya ternyata dek Irwan dari kontingen Pare-Pare.
Selanjutnya perjalanan menuju rumah
Cece, dimana jam menunjukkan waktu shalat azhar. Karena motor hanya satu jadi
setelah mengantar Cece, saya kembali menjemput Veer yang menunggu sendiri di
gedung IC dan lagi-lagi lewat jalan poros kota melewati kantor police dengan
boncengan yang lagi-lagi tak pake helm. Bertambah kesalahannya, aduhh.
Veer: “Kalau ditilan, Bilang saja
kami ini peserta MTQ yang mewakili Barru” haha hmm emang alasannya bisa diterima?
J Tapi ujung-ujungnya selamat sampai
tujuan.
Tibalah di kediaman Cece Mirany.
Berbincang-bincang dengan nenek Dena dengan keluarganya. Perbicaraannya
mengalir begitu saja, membicarakan soal siapa kami ini sebagai teman Cece
walaupun ini bukan pertama kali kami datang ke rumahnya, bincang-bincang
tentang MTQ dan tak terasa suguhan teh panas telah habis sambil mencicipi kuenya. Habis shalat kami tak sabar
menuju rel kereta api.
Ya, pas dihadapan rumah Cece
terbentang rel kereta api yang hampir setinggi dengan pohon kelapa. Ya sabar
saja kena guncangan, angin kencang berhembus dengan suaranya yang lumayan. Awal
tiba disitu, saya kaget dengan hilangnya rumah warga yang waktu saya datang
pertama kalinya disini banyak rumah tetangga di hadapan rumah cece. Tapi semua
telah tergusur entah pindah kemana. Bahkan ada rumah yang hanya tertinggal
terasnya yang dikira terminal/halte kereta api.. hhh
Hem keren, Pare-Makassar siap
beroperasi via kereta api. Tapi entah kelarnya kapan, tak tahu juga. Kabar sementara
target 2018, hem tapi bisa saja molor. Semoga kelar secepatnya. Kamipun sempatkan
ambil gambar di relnya sebelum kereta apinya lalu lalang. :) takuttt
Ehh
lupa, sebelum malam mejemput, saya antar Veer ke posko kontingennya dan disempatkan singgah sebentar sekedar melihat situasi rumah posko yang katanya itu rumah
kosong yang dijadikan posko. Memang betul terlihat mencekam dari luar dan
terlebih kamar-kamar yang terbuka lebar dan ruangan lain yang aneh. Rencananya
ingin kembali berkumpul nanti malam di alun-alun kota Barru sebab ramai jika
malam tiba terlebih saat MTQ ini bahkan di lapangan alun-alun itu disediakan
wifi gratis. Kerenkan MTQ nya. Tapi karena saya kesorean pulang jadi tak enak
lagi minta izin keluar malam dan juga besok pagi sudah ingin balik ke Makassar.
Tapi sebelum pulang dari sana, saya di cepret -cepret dulu sama bocah yang ada keturunan
Pakistannya ini. Gantengnya anak ini :)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar