Megavio As-Syifa
Mengarungi ilmu-Nya dengan berharap ridho-Nya
Kamis, 09 Maret 2017
Baby jatuh
Hati-hati saat anak anda sedang bermain. sebab pada hakikatnya anak memang senang dalam bermain.
namun sebagai orangtua tidak harus melarang bahkan terlalu membatasi seorang anak dalam keingintahuaannya akan suatu hal. sehingga tugas orangtua hanya perlu mengawasi dan terus stand by bersama buah hati.
Seorang anak adalah titipan sehingga tugas dan kewajiban orangtua adalah menjaga dan mendidiknya.
biarlah anak mengeksfresikan masa kecilnya namun tetap pengawasan orangtua dan lingkungan sekelilingnya.
Senin, 26 September 2016
Perpisahan ini tiba
Lihatlah!
Saat ini kita sudah berada di ujung perpisahan itu. Lihat wajah mereka satu
persatu, ada raut kesedihan disana. Ada air mata mencoba mengintip tapi tak
mampu menampakkan kesedihannya. Ada luka dalam dada tak mampu meluapkan
kesakitannya. Lihatlah begitu pintarnya mereka menyembunyikan semua
perasaannya, begitu cerdasnya menghadirkan senyum yang sebenarnya palsu.
Tawa yang
selama ini hanya untuk mengelabui satu sama lain kalau sebenarnya kalian berat
untuk berpisah. Ada jiwa yang berat untuk melakukan itu. Bayangkan saja kurang
lebih 4 tahun bersama, hampir tiap menit bahkan detiknya dengan orang-orang
yang sama, wajah yang sama sampai makan pun kadang memakai 1 piring
beramai-ramai hingga kita tak tahu mau mengambil nasi atau malah salah satu
tangan kalian yang terseret. Namun itulah kebersamaan bukan karena sepenuhnya
tidak ada piring, tapi karena naluri yang selalu ingin bersama.
Hari ini,
semua sibuk membereskan barang-barang rasanya tak pernah ada habisnya. Meskipun
sebagian sudah terangkut tapi tetap saja masih ada beberapa barang yang belum
beres. Bergantianlah berucap, “Ayo liburan bareng-bareng tuk yang terakhir,
sebelum semua sibuk dengan kehidupan barunya masing-masing” kalimat itu
benar-benar terjadi. Semua kan memiliki kehidupannya sendiri-sendiri. Entah kapan
waktu kan mempertemukan kita semua kembali. Bahkan rencana yang telah tersusun
rapi belum tentu terwujud manis.
Setiap pertemuan
akan berujung perpisahan, namun perpisahan bisa saja melahirkan pertemuan. Berdoa
saja kita kan dipertemukan dimanapun itu dan kapan pun itu.
Kalian!
Tetaplah seperti kemarin.
Akan
merindukan kalian…
Toga di 25 September 2016
Hari itu, 25 September 2016. Kurang lebih
4 tahun lalu saya masih kebingungan dengan diriku sendiri yang melihat kampus
ini begitu besar, luas dan diluar dugaanku. Saat itu aku serasa tidak percaya
bisa lulus di Universitas ini dengan beasiswa. Tapi dari situlah perjalananku
menuntut ilmu kembali dimulai. Meskipun dengan jurusan yang saya saja masih
bingung dengan apa yang telah kupilih. Namun ada hal yang membuatku berani
mengambil resiko berat ini, aku bisa meraih dunia akhirat tentunya dan aku bisa
mengurangi beban pembiayaan Bapak saya seperti alasan mengapa awalnya saya
tidak ingin merepotkan orang tuaku.
Semangatku menuntut ilmu lumayan
menggebu, namun jika harus membuat bapak saya banting tulang sana sini dengan
umur yang semakin menua, saya tidak sanggup. Namun saat aku mulai tak berniat
melanjutkan pendidikan perguruan tinggiku saat itu, ada salah satu guru yang
begitu prihatin dengan apa yang aku lakukan. Apa yang kuraih di bangku aliyah,
seharusnya tidak boleh berhenti sampai disitu.
Akhirnya beliaulah yang membantu memberikan
solusi saat itu, sampai aku pun bisa memakai toga ini dihadapan ribuan orang
dengan penuh bangga. Meskipun pencapaian akhir tidak sebagus saat aliyah, tapi
setidaknya saya bangga bisa melihat senyum mereka. Aku bangga bapakku bisa menyaksikanku
seperti ini tanpa merengek padanya.
Setelah pengukuhan, kakiku begitu
lincah melewati anak tangga gedung auditorium. Melihat begitu banyak kepala
diluar sana yang menunggu wisuda dan wisudawan. Mataku pun mencari segerombolan
orang-orang yang sedari tadi meneleponku, ya mereka keluarga dari pihak bapak
dan almarhumah mama. Awalnya aku berat mengundang mereka untuk hadir, tapi
mereka begitu semangat ingin datang jauh-jauh dari kampung masing-masing hanya
untuk melihatku memakai baju wisuda dengan toga hari itu. Sedih bercampur
bahagia sekali.
Pelukan mereka membuatku sulit
menahan air mata yang sdari tadi mulai berkaca-kaca melihat mereka dari
kejauhan. Terlebih ketika mereka berucap “ana’na kasi’ tauwe wisuda ni, olona
kampi emmakmu nak, marennu na tuh mitako mappakue” (Anaknya orang ini ternyata sudah
wisuda, seandainya ibumu masih ada, pasti dia sangat senang melihat mu sepert
ini). Air mataku pun tumpah, terisak dan tubuhku terasa lemas. Aku rindu Ibu
yang tidak bisa melihat anaknya seperti ini. Kuterisak dalam pelukan mereka
yang begitu sayang padaku. Kehadiran mereka yang sampai 3 mobil full itu tak
bisa membuatku berkata-kata. Aku sangat terharu meskipun aku belum bisa memberikan
yang terbaik buat mereka.
Inilah semester baru kehidupanku
kembali dimulai. Setelah ini entah takdirku akan membawaku kemana, yang jelas
apa yang telah aku dapatkan kemarin akan tetap melekat dan menyambut apa yang
akan datang setelahnya. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih.
Tour In Kalimantan
Menunda,
inilah akibatnya. Untung masih bisa nego dengan civitas akademik. Perjalanan
sepekan dengan jarak waktu kurang lebih 3 hari kedatangan sebelum wisuda. Namun
meskipun lelah, letih, lesu melakukan perjalanan panjang di Kalimantan, Pulau
terluas di Indonesia ini. Namun tak menggangu hari bahagia itu.
Perjalanan
kami dimulai dari Banjarmasin, Salah satu kota yang terkenal religious. Meskipun
masih kental adat siara kubur dengan adab mereka. Sebab di tempat inilah
lahirnya ulama-ulama Kalimantan. Kami pun menyempatkan mengunjungi salah satu makam
yakni Makam syeik Arsyad al-Banjari.
Ada
banyak tempat kami datangi, berkunjung ke 4 kota yakni: Banjarmasin, Samarinda,
Tenggarong dan terakir Balikpapan dengan rute perjalanan ke kampus-kampus
agama, ke pondok pesantren salah satunya yang terkenal Pondok Pesantren
Hidayatullah. Yang mana ada kebiasaan tiap tahunnya disana yang menikahkan
santri- santri mereka agar generasi yang sepaham terwujud dengan membentuk
cabang-cabang Ponpes dimana-mana. Yang membuat menarik, setiap yang terlontar
dari mulut pimpinan adalah nikah, membuat kami sebagai tamu yang berumur dari
santri membuat senyum bahkan tertawa pelan karena candaan beliau. Bahkan hampir
sebagian besar tempat yang kami kunjungi penduduknya brucap agar bisa suatu
hari kembali lagi ke Kalimantan atau menetap disana karena mendapatkan
pendamping dari sana.. Hm J
Bahkan karena untuk menghargai pesantrennya kami memakai sesuatu yang BELUM
kami kgunakan sebelumnya, lihatlah!
Tak
sampai disitu, kami juga mengunjungi Mesjid-mesjid besar disana sampai ke
Islamic Center tiap kota dan juga tak lupa Musium Mulawarman yang merupakan
kerajaan Kutai Kartanegara saat itu. Begitu juga dengan tempat-tempat wisata
lainnya dan berkunjung ke kediaman-kediaman orang-orang hebat. Bahkan 2 kali
berkunjung ke Hotel dengan 2 agenda acara dengan KKSS (Kerukunan Keluarga
Sulawesi Selatan). Saat berada di KKSS yang ada di Banjarmasin saya bertemu
dengan beberapa sekampung saya yang berasal dari Daerah Barru bahkan tetangga
saya di rumah yang tak lain keluarga meskipun sedikit jauh. Hanya beda beberapa
rumah dari rumah saya waktu itu. Tak ada yang kebetulan.
Sedangkan
KKSS Kalimantan Timur tepatnya Samarinda saat itu, diminta untuk menyumbangkan
lagu buat mereka, ya menyanyilah dengan lagu daerah kita Sulawesi Selatan
dengan bahasa bugis Alosi Ripolo Dua. Perjalanan udara, darat sampai laut ini
merupakan perjalanan saya yang luar biasa selama hidup. Baru kali itu keluar
Sulawesi dan semoga bukan yang terakhir.
Perjalanan
yang luar biasa, terimah kasih untuk para dosen pendamping yang setia menemani
kami meskipun agenda perjalanan terlalu padat. Tapi sangat puas.
Kamis, 02 Juni 2016
Teman-teman kecilku
Dapat kabar dari teman SD di BBM,
katanya: “Si A mau merid tanggal 29 Mei”, ya panggil saja dia si A. hehehe…
Rencanapun untuk pulang terealisasi meskipun rencananya hanya PP (Pulang Pergi)
bukan pergi pergi loh, sebab salah satu teman SD sengaja pinjam mobil tantenya
untuk kami teman-temannya dari Makassar.
“Kami sudah di dalam kampus UIN,
dimana asramanya?” kata temanku yang tak lain adalah tetanggaku di kampung.
Meskipun sudah dijelaskan letaknya
tetap saja mereka nyasar ke asrama lain, aduh. Bukan bermaksud balas dendam
karena sudah membuatku menunggu terlalu lama, bayangkan saja siap menunggu dari
siang tapi datangnya habis magrib, lamanya. Akupun tak sengaja membuat mereka
menunggu, karena habis magrib itu, kebiasaan tinggal asrama ya ada rapat asrama
gitu. Akhirnya saya terjebak dan tidak bisa keluar asrama, sebab jalur pintu
keluar dipenuhi kaum lelaki yang sedang rapat. Berkali-kali handphoneku berdering,
panggilan dari teman-teman yang sudah menunggu. Bahkan saya sempat ingin
mengatakan tidak jadi berangkat jika keadaannya sudah seperti ini. Tapi setelah
dipikir-pikir tidak baik juga sebab mereka sudah buang waktu kesini jemput saya
jauh-jauh.
Setengah jam berlalu saya tidak
berani menggangu ustadz yang juga pernah membina kami di asrama ini, yang
sedang berbicara serius membicarakan tentang asrama. Tapi tiba-tiba beliau
menegur ketika HP ku tak henti berdering.
“Silent hapenya!” Sontak semua
beralih ke saya yang sedari tadi teman-teman perempuan sudah merasakan
kegelisahanku. Itupun menjadi kesempatanku untuk meminta izin.
“Maaf ustadz, sebenarnya saya mau
minta izin pulang kampung, mobil jemputannya sudah menunggu diluar” kataku
gugup.
Setelah ditanya-tanya oleh beliau
tentang sudah izin atau belum sama Pembina asrama yang sedang tidak berada di
asrama waktu itu dan juga minta izin sama Pembina yang lain. Saya pun diberi izin
pulang dan menyuruh lelaki untuk membuka jalan untukku, yang menutupi pintu
masuk asrama. Hmm layaknya apa gitu, Aduh terasa eksis seketika di hadapan
mereka. Maaf!
Berlanjut di mobil, saya
mengeluarkan keluh kesahku yang menunggu mereka terlalu lama. Bahkan ada teman
cewek yang tak jadi berangkat karena terlalu sebentar jika harus berangkat malam
begini dan harus balik ke Makassar lagi nanti menjelang subuh, tepar di jalan
kalau gitu. Barru-Makassar lumayan jauh, kurang lebih 100 km.
“Hem, Mega jangan jadi Risna ya
nanti !” celetuk temanku yang menyupiri kami malam itu, dengan nada mengejek.
“Apa? Astaqfirullah. Memangnya saya
sama si A ada hubungan apa? Aduh.” Jawabku kesal. Siapa yang tak kesal jika
dikatain seperti itu, layaknya kisah Risna yang datang dipernikahan kekasihnya.
Akhirnya perbincangan berlanjut ke
kisah-kisah Sekolah Dasar dulu, bayangkan saja lama tak pernah ketemu satu sama
lain. Bahkan teman cewek yang disampingku namanya Indah bisa dibilang 5 tahun
baru ketemu, padahal tetangga dusun. Terakhir ketemu waktu SMA kelas satu, tapi
masih tetap sama orangnya J
.
Mereka terus mengejekku sepanjang
jalan Makassar yang macet itu. Aku bahkan menceritakan ke mereka, saking tidak
sukanya di ejek sama lelaki, saya selalu nangis waktu kecil dulu ketika adik saya
sendiri mengejek saya dengan si A. Tidak disekolah, di rumahpun mendapat ejekan,
tapi itu jurus jitu adikku ketika ingin menang dari saya saat kami sedang
bertengkar. Jika dia sudah sebut nama si A, saya langsung nangis, kalah.
Saya langsung teringat sama salah
satu teman SD juga yang sekarang lagi kerja di Kalimantan. Orangnya sangat
humoris bahkan terkadang saya malas angkat telponnya karena pasti akan capek
ketawa terus. Temanku itu pernah bahas si A waktu nelpon, untung dia nggak
hadir diacaranya si A, hampir saya semakin parah diejekin.
“Sebenarnya
saya dengan si A ada hubungan apa, padahal tidak ada apa-apa kok.” Kesalku.
“Kamu
hanya tak tahu saja Ga’ kalau dulu itu nah kamu jadi rebutan, bahkan sekarang
mungkin kamu juga masih gitu, makanya saya tidak percaya ketika kamu bilang
nggak punya pacar. Masa sih nggak punya” tutur temanku itu dengan logat
kalimantannya.
Saya
jadinya sok-sok tak tahu padahal ngerasa sih, hehehe kepedean. Sebab saya masih
ingat dulu ketika teman-teman cowokku itu sering datang ke rumah dengan alasan mau
belajar bareng, bahkan sempat dimarahi sama orangtua salah satu teman cewekku
karena memanggilnya keluar malam untuk ikutan ke rumahku belajar malam. Aduhh
kisah anak-anak kita lucu.
“Hem
beneran nggak ada. Nggak mesti punya pacar kan? Masa kuliah free dari
pacar-pacaran, lagian pacaran itu tidak dibenarkan dalam Islam. jomblo sampai halal” tanggapku dari balik telepon.
“Yayaya..
Hanya saja dulu itu si A yang sudah kapling kamu, katanya tidak boleh diganggu,
jadi begitulah kamu terus di ejek sama teman-teman sama si A.”
Pembahasan
kembali ke perjalanan. Kendaraan kami masih berada di wilayah Makassar. Bahkan perbincangan
tentang saya terus jadi edisi pembicaraan mereka di sepanjang jalan ke Barru. Indah
nyeletuk yang juga masih jadi teman SMP setelah lulus dari SD itu.
“Iya
nih Mega sadis, bahkan tak ajak bicara si A waktu SMP. Parah kamu Ga’, masih
saya ingat sekali itu.” Kata Indah yang membuat teman lain dalam mobil kaget
karena diantara mereka ada yang tak lanjut SMP bareng dengan kami.
“Iya
maaf. Karena saya tidak suka diejek begitu. Bahkan sudah SMA saya juga pernah nangis gara-gara diejek sama senior. :) (Serasa difitnah jd nangis hehe). Tapi si A nambah-nambahin terus
jadi bagaimana tidak diejek sama teman-teman. Sudah SMP tapi terus diejikin
sama si A. Saya dulu masih bersikap anak-anak banget tidak tersentuh merah
jambu gitu hehehe. Akhirnya emosi dan tak ajak bicara sampai kelulusan SMP,
bayangkan itupun karena bujukan teman-teman yang kasihan sama si A, karena udah
lulus-lulusan tapi belum diajak ngomong. Akhirnya dimaafkan, lagian belum saya
tahu juga kalau dosa jika lebih dari 3 hari.” Jawabku membela diri.
Karena
ingin supaya mereka ganti pembahasan yang terus mengarah ke saya, nanyain siapa
yang nyusul si A selanjutnyalah, apalah. Aduhh akhirnya saya juga mengusik
kisah merah jambu mereka masing-masing waktu SD. Semuanya terlihat lucu,
mengingat kisah lucu. Sebab kisah yang paling lucu ditingkatan sekolah ya waktu
Sekolah Dasar karena tingkah imut dan muka imut ya di SD. Hahaha.
Aku
pokoknya senang sekali ketemu mereka. Barusan bisa reunian setelah sekian lama
tak jumpa, lama sekali. Mereka pun ingin ini bukan pertemuan terakhir tapi berlanjut
dalam waktu dekat ini misalnya berbuka puasa bareng.
Tinggalkan
Makassar sudah isya, jadinya kami sudah mendapati pengantinnya nggak memakai
baju pengantin lagi. Tamu-tamu juga udah bubar tinggal hiburan yang terus
mengusik pendengaran rumah-rumah sekitar dengan music diskonya. *tepuk jidat.
Kami pun ke kondangan dengan wajah-wajah kusut dan ngantuk, tapi tak apalah. Meskipun
lagi-lagi teman-temanku tetap mengejekku dengan si A, untung mempelai
perempuannya tak ada, sedang buka kostum di kamar. Jadi salah tingkah kan
orangnya. Teman-teman jail.
Rencanya
mau kumpul bareng dengan teman-teman SD yang lain tapi katanya sudah pada
pulang karena menunggu kami dari Makassar terlalu larut. 23.00 jadi ya wajar
kok. Maaf ! Rindu kalian teman-teman kecilku.
Langganan:
Komentar (Atom)





















