Menunda,
inilah akibatnya. Untung masih bisa nego dengan civitas akademik. Perjalanan
sepekan dengan jarak waktu kurang lebih 3 hari kedatangan sebelum wisuda. Namun
meskipun lelah, letih, lesu melakukan perjalanan panjang di Kalimantan, Pulau
terluas di Indonesia ini. Namun tak menggangu hari bahagia itu.
Perjalanan
kami dimulai dari Banjarmasin, Salah satu kota yang terkenal religious. Meskipun
masih kental adat siara kubur dengan adab mereka. Sebab di tempat inilah
lahirnya ulama-ulama Kalimantan. Kami pun menyempatkan mengunjungi salah satu makam
yakni Makam syeik Arsyad al-Banjari.
Ada
banyak tempat kami datangi, berkunjung ke 4 kota yakni: Banjarmasin, Samarinda,
Tenggarong dan terakir Balikpapan dengan rute perjalanan ke kampus-kampus
agama, ke pondok pesantren salah satunya yang terkenal Pondok Pesantren
Hidayatullah. Yang mana ada kebiasaan tiap tahunnya disana yang menikahkan
santri- santri mereka agar generasi yang sepaham terwujud dengan membentuk
cabang-cabang Ponpes dimana-mana. Yang membuat menarik, setiap yang terlontar
dari mulut pimpinan adalah nikah, membuat kami sebagai tamu yang berumur dari
santri membuat senyum bahkan tertawa pelan karena candaan beliau. Bahkan hampir
sebagian besar tempat yang kami kunjungi penduduknya brucap agar bisa suatu
hari kembali lagi ke Kalimantan atau menetap disana karena mendapatkan
pendamping dari sana.. Hm J
Bahkan karena untuk menghargai pesantrennya kami memakai sesuatu yang BELUM
kami kgunakan sebelumnya, lihatlah!
Tak
sampai disitu, kami juga mengunjungi Mesjid-mesjid besar disana sampai ke
Islamic Center tiap kota dan juga tak lupa Musium Mulawarman yang merupakan
kerajaan Kutai Kartanegara saat itu. Begitu juga dengan tempat-tempat wisata
lainnya dan berkunjung ke kediaman-kediaman orang-orang hebat. Bahkan 2 kali
berkunjung ke Hotel dengan 2 agenda acara dengan KKSS (Kerukunan Keluarga
Sulawesi Selatan). Saat berada di KKSS yang ada di Banjarmasin saya bertemu
dengan beberapa sekampung saya yang berasal dari Daerah Barru bahkan tetangga
saya di rumah yang tak lain keluarga meskipun sedikit jauh. Hanya beda beberapa
rumah dari rumah saya waktu itu. Tak ada yang kebetulan.
Sedangkan
KKSS Kalimantan Timur tepatnya Samarinda saat itu, diminta untuk menyumbangkan
lagu buat mereka, ya menyanyilah dengan lagu daerah kita Sulawesi Selatan
dengan bahasa bugis Alosi Ripolo Dua. Perjalanan udara, darat sampai laut ini
merupakan perjalanan saya yang luar biasa selama hidup. Baru kali itu keluar
Sulawesi dan semoga bukan yang terakhir.
Perjalanan
yang luar biasa, terimah kasih untuk para dosen pendamping yang setia menemani
kami meskipun agenda perjalanan terlalu padat. Tapi sangat puas.
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar