Jumat, 31 Oktober 2014

Tak sanggup melihat, mendengar bahkan merasakan penderitaan orang lain

Aku benar-benar tidak bisa menyaksikan sebuah penderitaan, sebuah tangisan dan air mata, suara rintihan dibalut pedih yang menyayat kalbuku. Mungkin itu salah satu yang menjadi penyebab mengapa aku tidak berminat pada pekerjaan rumah sakit, kepolisian dan bahkan yang berbau persenjataan. Rasa bela sungkawa yang sangat kuat, rasa tak sanggup melihat orang lain menderita. Bahkan jiwaku ini membuat aku tidak tertarik bersanding nantinya dengan lelaki yang memiliki pekerjaan dalam bidang itu. Aku tak sanggup jika nantinya aku hampir setiap hari menyaksikan orang-orang harus kesakitan  ditempat pekerjaan suamiku. Meskipun beberapa teman memberikan sebait  pandangan tentang perbedaan pendapat mereka, berusaha mencoba meyakinkan aku, jika semua itu tak seperti apa yang aku fikirkan. Semua itu tak berpengaruh padaku.
        Mungkin masih ada lelaki disana yang tidak harus mendapatkan pekerjaan dibidang itu. sebab rasa ketakutan ku itu dan rasa tak tegaanku ini membuat aku tak tertarik dengan orang-orang yang bekerja seperti itu. Sebenarnya itu bukan kekerasan yang berlebih, tapi tetap saja, mereka terkadang keras fisik terhadap sesuatu dalam aktifitas pekerjaannya.
        Aku benar-benar tidak sanggup dengan kekerasan. Sangat tak sanggup. Dari kecil aku hampir sering nangis jika diajak berbicara dengan suara keras, aku tak bisa di ajak becanda dengan suara yag lantang.. Sebab itulah aku, anak sulung yang dilahirkan di tanah Bugis dengan kedua orangtua yang sangat baik dan sangat sabar.
Kembali pada persoalan menyakiti orang lain. Semua bisa menghadapkan pandangan melihat  problamatika besar yang sedang gempar di belahan dunia yaitu tentang Gaza. Kisah Gaza Ini membuat hatiku teriris sakit. Perih mendengar histeris suara insan yang penuh dengan ketakutan, ngiluh mendengar kabar mereka semakin habis ditelan senjata. Kapan semua itu akan berakhir? Kapan?
        Setiap teman yang mengirim gambar keadaan Gaza, setiap berita yang ditayangkan media tentang Gaza, tak sanggup ku lihat. Aku marah, aku kesel, aku berkecamuk dengan perasaanku yang tak bisa menerima perbuatan mereka. Aku khawatir Sang Pencipta murka pada orang-orang seperti mereka. Bahkan teater tentang Gaza yang dipersambahkan pada seminar tadi, membuat kelopak mata ini tak bisa membendung aliran air mata yang ingin meluap. Air mata ini sakit, sakit yang mulai mengalir dari dalam hati.


Dari banyaknya ayat al-Qur'an, penulis hanya mencantumkan tiga ayat dari sekian banyak ayat yang menjelaskan hukuman bagi orang-orang yang berada dalam sebuah potensi keburukan tanpa bertaubat sebelum nyawa menjemputnya.
1.    Q.S. An-Naml : 90
وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Terjemahnya:
Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.
2.     Q,S Saba: 42
فَٱلْيَوْمَ لَا يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ نَّفْعًا وَلَا ضَرًّا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّتِى كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ
Terjemahnya:
Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: "Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu".
Q.S Az-Zumar-72
قِيلَ ٱدْخُلُوٓا۟ أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَبِّرِينَ
Terjemahnya:
Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar