Minggu, 28 Desember 2014

Maaf dan Terima kasih selama ini

          Boleh kah waktu sekedar diperlambat?

          Kami takut, saat waktunya tiba. Ada kata “Selamat berjuang, selamat tinggal dan jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu”. Kami takut, tidak akan  sanggup menerima itu semua.

          Meskipun aku secara pribadi, tidak ternilai apa-apa dibanding teman-teman yang lain. Tapi selama ini, aku berusaha menebar senyum dan menjadi anak yang tidak membangkang padamu. Meskipun aku tergolong manusia yang susah menghafal hal-hal yang berbahasa arab, tapi aku berusaha tetap berdiri kokoh di tempat ini. Tanpa berani melangkahkan kaki keluar dari jalurnya.

          Engkau telah menjadi orangtua kedua kami, Ya, setelah orang tua kandung kami tentunya. Engkau begitu ikhlas mengajarkan kami ilmu yang takkan ternilai harganya. Engkau tulus menumpahkan pembelajaran mengenai arti kehidupan yang sesungguhnya pada kami. Engkau sungguh-sungguh menggembleng kami agar kuat menghadapi kehidupan yang akan mengahadang kami nantinya. Sungguh, Engkau membekali kami dengan berkahmu, bagi orang-orang yang betul-betul ingin mendapatkan berkah itu.

          Maka dari itu. aku takut kehilangan sosok yang begitu hebat itu. aku sedih, jika tidak mendengar suara-suara khas yang membangunkan kami untuk shalat, disaat kantuk begitu kuat menggoda kami. Hati ini sakit, saat tidak ada lagi canda yang menghiasi hari-hari kami di asrama.

          Apa mungkin kami harus tersenyum, sementara hati ini merasa kesakitan? Apa mungkin kami harus tertawa, sementara jiwa ini begitu perih? Tidak… kami akan tetap menangis, meskipun akan kami sumbat wajah ini agar tidak terbaca olehmu. Agar tidak menambah kekhawatiran padamu untuk meninggalkan kami.

          Sebab, tidak seharusnya air mata mengantarmu, jika niat kami untuk melihat engkau mendapatkan yang terbaik. Tidak sewajarnya rintihan kesakitan sebagai kado terakhir. Jika naluri kami untuk mendapat berkahmu. Biarlah Allah menjalankan apa yang dikendaki-Nya. Sebab Allah pula yang  maha mengetahui hati hambanya.

          Kami akan rindu pada engkau, musyrifku. Kami akan rindu pada nasehat dan ilmumu dan kami akan rindu pada keluarga mu wahai musyrifku.


          Tiada kata yang bisa kuucapkan selain kata MAAF, MAAF DAN MAAF, jika selama ini ada terlontar kata, perbuatan yang tidak seharusnya. Aku juga sangat BERTERIMA KASIH atas segalanya selama ini. L L ;(



Tidak ada komentar:

Posting Komentar