Boleh
kah waktu sekedar diperlambat?
Kami
takut, saat waktunya tiba. Ada kata “Selamat berjuang, selamat tinggal dan
jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu”. Kami takut, tidak akan sanggup menerima itu semua.
Meskipun
aku secara pribadi, tidak ternilai apa-apa dibanding teman-teman yang lain.
Tapi selama ini, aku berusaha menebar senyum dan menjadi anak yang tidak
membangkang padamu. Meskipun aku tergolong manusia yang susah menghafal hal-hal
yang berbahasa arab, tapi aku berusaha tetap berdiri kokoh di tempat ini. Tanpa
berani melangkahkan kaki keluar dari jalurnya.
Engkau
telah menjadi orangtua kedua kami, Ya, setelah orang tua kandung kami tentunya.
Engkau begitu ikhlas mengajarkan kami ilmu yang takkan ternilai harganya. Engkau
tulus menumpahkan pembelajaran mengenai arti kehidupan yang sesungguhnya pada
kami. Engkau sungguh-sungguh menggembleng kami agar kuat menghadapi kehidupan
yang akan mengahadang kami nantinya. Sungguh, Engkau membekali kami dengan
berkahmu, bagi orang-orang yang betul-betul ingin mendapatkan berkah itu.
Maka
dari itu. aku takut kehilangan sosok yang begitu hebat itu. aku sedih, jika
tidak mendengar suara-suara khas yang membangunkan kami untuk shalat, disaat
kantuk begitu kuat menggoda kami. Hati ini sakit, saat tidak ada lagi canda
yang menghiasi hari-hari kami di asrama.
Apa
mungkin kami harus tersenyum, sementara hati ini merasa kesakitan? Apa mungkin
kami harus tertawa, sementara jiwa ini begitu perih? Tidak… kami akan tetap
menangis, meskipun akan kami sumbat wajah ini agar tidak terbaca olehmu. Agar
tidak menambah kekhawatiran padamu untuk meninggalkan kami.
Sebab,
tidak seharusnya air mata mengantarmu, jika niat kami untuk melihat engkau
mendapatkan yang terbaik. Tidak sewajarnya rintihan kesakitan sebagai kado
terakhir. Jika naluri kami untuk mendapat berkahmu. Biarlah Allah menjalankan
apa yang dikendaki-Nya. Sebab Allah pula yang maha mengetahui hati hambanya.
Kami
akan rindu pada engkau, musyrifku. Kami akan rindu pada nasehat dan ilmumu dan
kami akan rindu pada keluarga mu wahai musyrifku.
Tiada
kata yang bisa kuucapkan selain kata MAAF, MAAF DAN MAAF, jika selama ini ada
terlontar kata, perbuatan yang tidak seharusnya. Aku juga sangat BERTERIMA
KASIH atas segalanya selama ini. L L ;(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar