Ketemu lagi sahabat Blog
Vio..
Entah mengapa, Vio sering
buka-buka literasi yang membicarakan tentang mimpi, baik mimpi dalam artian
bunga tidur atau mimpi dalam artian impian. Mungkin salah satu alasan karena
ada beberapa mimpi yang mengganjal dalam pikiran Vio. :) hhh
Dalam salah satu buku
tentang tafsiran mimpi menjelaskan bahwa:
Mimpi
terbagi dua: mimpi yang benar dan yang batil. Mimpi yang benar ialah yang
dialami manusia tatkala kondisi psikologisnya seimbang dan keadaan cuaca sedang
seperti ditandai oleh bergoyangnya pepohonan hingga berjatuhannya dedaunan.
Mimpi yang benar tidak didahului dengan adanya pikiran dan keinginan akan
sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi. Kebenaran mimpi juga tidak ternodai
oleh peristiwa junub dan haid.
Adapun
mimpi yang batil ialah yang ditimbulkan oleh bisikan nafsu, keinginan, dan
hasrat. Mimpi demikian tidak dapat ditakwilkan. Demikian pula mimpi “basah” dan
mimpi lain yang mewajibkan mandi dikategorikan sebagai mimpi yang batil karena
tidak mengandung makna. Sama halnya dengan mimpi yang menakutkan dan
menyedihkan karena berasal dari setan. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya
pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu
berduka cita, sedang pembicarana itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun
kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya
orang-orang yang beriman bertawakal.” (al-Mujaadilah: 10)
Jika
seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima perbuatan.
Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon
perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat,
dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.
Etika
pelaku mimpi ialah, pertama, dia tidak menceritakan mimpinya kepada
orang yang hasud sebagaimana dikatakan Ya’kub kepada Yusuf, “Ayahnya berkata,
‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu,
maka mereka akan membuat makar untuk membinasakanmu.’” (Yusuf: 5)Kedua,
jangan menceritakan mimpinya kepada orang yang bodoh. Nabi saw. bersabda, “Janganlah
kamu menceritakan mimpimu kecuali kepada orang yang dicintai atau kepada orang yang
pandai.” Ketiga, janganlah menceritakan mimpi kecuali secara rahasia
karena dia pun melihatnya secara rahasia pula. Jangan menceritakannya kepada
anak-anak dan wanita. Sebaiknya mimpi itu diceritakan menjelang awal tahun dan
pada pagi hari, bukan sesudah keduanya lewat.
Adapun
etika pentakwil ialah sebagai berikut:
·
Pertama, jika saudaranya
menceritakan mimpi kepadanya, maka katakanlah, “Aku kira mimpi itu baik.”
·
Kedua, hendaknya
menakwilkan mimpi dengan cara yang paling baik. Diriwayatkan bahwa Nabi saw.
bersabda, “Mimpi akan terjadi sebagaimana ia ditakwilkan.” Juga diriwayatkan
bahwa beliau bersabda, “Mimpi itu bagaikan kaki yang menggantung selama belum
diungkapkan. Jika telah diungkapkan, maka terjadilah.” Demikian yang disebut
dalam as-Silsilah ash-Shahihah.
·
Ketiga, menyimak mimpi
dengan baik, kemudian menjawab si penanya dengan jawaban yang mudah dipahami.
·
Keempat, jangan
tergesa-gesa menakwilkan mimpi. Lakukanlah dengan hati-hati.
·
Kelima, menyembunyikan
mimpi dan tidak menyebarkannya sebab ia merupakan amanat. Jangan menakwilkan
mimpi ketika matahari terbit, ketika tergelincir, dan ketika terbenam.
·
Keenam, memperlakukan
pelaku mimpi secara berbeda. Janganlah menakwilkan mimpi raja seperti menakwilkan
mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya.
·
Ketujuh, merenungkan mimpi
yang dikemukakan kepadanya. Jika mimpi itu baik, maka takwilkanlah dan
sampaikanlah kabar gembira kepada pelakunya sebelum mimpi itu ditakwilkan. Jika
mimpi itu buruk, maka janganlah menakwillkannya atau takwilkanlah bagian mimpi
yang takwilnya paling baik. Jika sebagian mimpi itu merupakan kebaikan dan
sebagian lagi keburukan, maka bandingkanlah keduanya, lalu ambillah mimpi yang
paling tepat dan paling kuat pokoknya. Jika pentakwil mengalami kesulitan,
bertanyalah kepada pelaku mimpi ihwal namanya, lalu takwilkannya berdasarkan
namanya itu.
Tafsiran mimpi itu, tidak boleh dipercaya 100% karena mimpi yang
benar-benar hanya ada pada beberapa nabi dan rasul. Hanya rasulullah pula yang
mampu menafsirkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar