Jumat, 16 Januari 2015

Sekilas tentang Bacharuddin Jusuf Habibie

            Kenapa sebagian besar penduduk Negara kita memilih berada di luar negeri? Bahkan memilih bekerja disana. Karena disamping pendapatan yang lebih baik, orang-orang disana lebih menghargai orang. Aku cinta Bangsaku, aku cinta Tanah airku. Tapi sifat warga yang kurang memikirkan secara jernih suatu permasalahan. Hukum dibeli dimana-mana, menyebabkan orang yang tidak berpunya harus dirampas kebebasannya.
            Berbicara tentang Negara. Ini sekilas mengenai biodata mantan presiden ke-3 yang dikutif dari situs https://nusantaranews.wordpress.com/2009/04/02/biografi-bj-habibie-bapak-teknologi-dan-demokrasi-indonesia/

             Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun) merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Habibie menjadi Presiden ke-3 Indonesia selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Habibie merupakan “blaster” antara orang Jawa [ibunya] dengan orang Makasar/Pare-Pare [ayahnya].


      Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Fisika. Selama enam bulan, ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955. Dengan dibiayai oleh ibunya,  R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen-Jerman.
Berbeda dengan rata-rata mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa di luar negeri, kuliah Habibie (terutama S-1 dan S-2) dibiayai langsung oleh Ibunya yang melakukan usaha catering dan indekost di Bandung setelah ditinggal pergi suaminya (ayah Habibie). Habibie mengeluti bidang Desain dan Konstruksi Pesawat di Fakultas Teknik Mesin. Selama lima tahun studi di Jerman akhirnya Habibie memperoleh gelar Dilpom-Ingenenieur atau diploma teknik (catatan : diploma teknik di Jerman umumnya disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain) dengan predikat summa cum laude.
           Pak Habibie melanjutkan program doktoral setelah menikahi teman SMA-nya, Ibu Hasri Ainun Besari pada tahun 1962. Bersama dengan istrinya tinggal di Jerman, Habibie harus bekerja untuk membiayai biaya kuliah sekaligus biaya rumah tangganya. Habibie mendalami bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang. Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3 nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan  indeks prestasi summa cum laude.


            Salah satu yang menarik adalah nama Baharuddin Yusuf  Habibi dengan putra sulungnya yakni Ilham Akbar Habibie. Entah kebetulan atau tidak. Perkenalkan nama bapak saya, yang sama dengan pak habibie yakni Baharuddin. Kemudian nama adik saya Ilham. Sejak aku telusuri, aku kaget. Kok bisa ya…. .hhh. eh jika disangkutpautkan, nama ibu saya memiliki jumlah huruf yang sama dengan ibu Ainun., yakni Murni. Dan yang terakhir, nama lengkap saya Megawati, yang juga berhubungan dengan pak Habibie. Karena Megawati juga salah satu mantan presiden R.I. Semoga apa-apa yang baik dari mereka juga tergambar jelas kepada kami. Amiiiiiiiin. 

Berpisah........... sad

            Berpisah?
            Kata yang berhakikat sedih dan senang. Tapi, lebih sering ke arah sedih. berpisah Memberikan maksud tentang sesuatu yang tadinya bertemu, tapi kemudian menjauh satu sama lain. Atau sesuatu yang tadinya satu, akhirnya menjadi terbela-bela. Kata pisah sungguh membuat perasaan seseorang menjadi berbanding terbalik dengan sebelumnya.

            Andai semenjak awal, tidak ada pertemuan. Maka akan sulit terungkap kata berpisah itu. Tapi kita berada dalam dunia yang fana. So, semua tidak ada yang abadi.  Ada malam dan siang, hitam dan putih, mati dan hidup, serta bertemu dan berpisah itu.

            Aku setuju dengan salah satu perkataan guru kehidupanku, bahwa “Jika ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Tapi jika ada perpisahan, belum tentu ada pertemuan.”

            Semoga ada saatnya, kita kan bertemu kembali dengan jalan yang sama ataupun jalan yang telah berbeda. Terima kasih atas ilmunya selama ini. Terima kasih atas pelajaran kehidupan selama ini. Semoga dimudahkan jalan kehidupan dunia akhirat kepada kita semua, amiiiiiiiiin.

            Ya, setiap ada perpisahan, tidak lepas juga dengan air mata. Air mata kesedihan, sekaligus kebahagian karena merenungkan harapan-harapannya yang akan tercapai.

            See you my sister……… wish you all the best


Senin, 12 Januari 2015

Tum Hi Ho - (Aashiqui 2 ) - violin cover



lebih sedih lagi,,,,,,,,,,,,

Tum hi ho (Aashiqui 2) Guitar Instrumental By Kailash Sudiya



sad song,,,,,,,,,, lagi sedih-sedihnya

Lagi dan lagi



          Lagi dan lagi…

          Tidak tahu mengapa, perempuan diidentikkan dengan tangisan. Ya, mungkin itulah fitrah dari-Nya, bagi seorang makhluk yang melalui perantaranya dapat melahirkan seorang anak.

          Rasa sedih atau kebahagiaan mampu membuat perempuan dimanapun meneteskan air matanya. Fitrah yang semakin membuat perempuan terlihat lemah, diantara lelaki.

          Biasanya juga, jika keinginan yang begitu urgen menurut seorang perempuan tidak terpenuhi, maka salah satu jalan meluapkan kekecewaan dengan menangis. Meskipun aku berusaha mengerti, tapi tetap saja air mata yang telah ditakdirkan ini, tidak mampu kubendung. Ya, karena aku seorang perempuan.

          Apa yang aku lakukan. Hanya berusaha meredam kesalahpahaman diantara keluarga. Dengan sabar kuhadapi semua. Tapi cobaan terus menghadang. Ada-ada saja yang membuat kesalahpahaman itu. Maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk kali ini.
         
salah satu lagu saat kesedihan melandaku............. :(

           

F. U

        Setahun telah berlalu. Biarkanlah waktu membantu semua kenangan itu menjauh dan hanya tersimpan sebagai memori. Tiada yang mampu mengubah segalanya, kecuali-Dia.


        Semua adalah takdir yang telah ditetapkannya. Segalanya  hanya akan menjadi cerita dalam kehidupanku. Yang akan tertuang dalam goresan pena, yang telah dibumbuhi cerita fiksi. Selamat jalan dan semoga dirimu disana ditempatkan di tempat yang diiinginkan semua makhluk-Nya.. amin


Kamis, 08 Januari 2015

IGA FM


Penyiar adalah orang yang menyampaikan suatu berita, informasi dengan menggunakan alat yaitu radio. Menyajikan kepada pendengar mengenai suatu fakta atau segala hal yang berbau pemberitahuan, yang dituangkan dengan tutur kata yang santai dengan music yang menjadi bumbu-bumbunya.

Music dengan radio, tidak bisa dipisahkan. Dengan music inilah, radio masih tetap eksis sampai masa modern ini. Radio tidak terkubur karena adanya TV, Leptop, gadget dan alat teknologi yang canggih lainnya.

Berbicara tentang penyiar. Itulah salah satu pekerjaan yang aku minati sejak kecil. Sering mendengar radio dan bahkan melakukan praktek-praktek menyiar, yang membuatku tertawa malu jika membangingatnya.

Dari kecil. Aku sudah berniat. Jika suatu saat, aku harus berada di balik radio ini. Bercakap tanpa harus khawatir, sebab tidak mesti menampakkan wajah. Beda dengan penyiar TV, yang harus menampakkan kecantikan di depan layar. Dan itulah salah satu kelemahanku, tidak mampu melakukan pekerjaan yang modal utamanya adalah penampilan.

Sehingga tiba saatnya. Tahun kemarin, aku mulai menyiar perdana di salah satu penyiaran radio di kampung halamanku sendiri. Awalnya ragu dan sedikit canggung. Tapi, lama kelamaan mulai terbawa arus. Terlebih lagi, para pendengar merespon sangat baik diriku yang menyiar.

Begitu kesenangan tersendiri yang tiak mampu di ukur. Salah satu harapan telah terwujud. Dan aku berharap, harapan-harapan akan terwujud nantinya. Amiiiiiiiiiiiin



Si Dollar !


                Terkadang panggilan mereka mengganggu ketenanganku. Disaat tubuhku merasa kelelahan yang memuncak, disaat mata insomnia ini ingin terlelap. Seketika itu pula suara-suara memanggil namaku terngiang di pendengaran. Tiada hari tampa berhubungan dengannya.

                 “Ha ha ha, dollar, dollar” Tawa sekamarku, si Lahap Ntut mengagetkan aku yang sedang sibuk menghitung uang.

                Aku yang menyadari, maksud dari perkataannya, ikut membalas dengan ikut tertawa. “Ya, ya ya. Uang uang terus ya… sampai ingin tidur saja, masih berhubungan dengan uang”.

                “Dollar? Ia ia, bisa bisa” teman kamar yang lain ikut menimpali.

                “Kalau begitu, aku lantik namamu menjadi “’Si Dollar” Celetuk teman kamar yang super amazing, hhh peace my best freands.

                “Iya, iya……” teman kamar yang selembut sutra mengangguk tanda setuju.

                “Seandainya saya yang di amanahkan, huff tak sanggup aku pegang uang sebanyak itu. terlebih lagi dengan sumber yang berbeda-beda. Jadi pusing” teman kamar y super amazing kembali nyeletuk.

                Begitulah seharianku. Dihantui dengan uang, uang dan uang. Sayang, itu bukan uang pribadi, hhh. Ini tidak lain demi kita semua. Makanya rajin-rajin ya menyetor untuk kesuksesan bersama. Si Dollar yang malang!. Ini ceritaku, mana cerita sahabat blog Vio? J


Rabu, 07 Januari 2015

Hijjaz - Kau Sahabat Kau Teman



spesial For U....

Nasyid - Nostalgia (Shoutul Amal)



Teruntuk Engkau dan kalian........
jangan menjadikan ini semua sebagai titik pemberhentian. tapi jadikan ini sebagai jalan yang lebih baik dari-Nya..........
 

Selasa, 06 Januari 2015

Baby arguing with her dad

Twin Babies Sharing Too Many Marshmallows - PART 2



aduhhhhhhhhh, lucunyaaaaaaaaaaaaaaa..... ..........
ihhhhhhhh ngemes

Jangan ajari diriku menjadi sosok pembangkang!

          Mendengar dan melihat orang-orang yang pada bersemangat jika melontarkan kata “PULKAM”, membuat hati ini terasa iri pada mereka. Saat yang ditunggu-tunggu berkumpul dengan keluarga, memang adalah hal yang begitu dirindukan. Setelah sibuk dengan segunung aktifitas yang menguras tenaga, pikiran dan perasaan, mungkin. Kini ada kalanya, ada secuil kata tentang rindu untuk berjumpa, tergambar sebuah raut kegirangan ingin bersua. Tapi, apakah itu juga teruntuk pada diriku?

          Tidak pulang? Kapan liburnya? Kurang lebih seperti itu sepata-kata dari mereka. Menunggu diriku yang merasa kebingungan.

          Semenjak kepergian Ibu, diriku sudah menganggap engkau sebagai ibu. Menghormatimu, menyayangimu layaknya seorang anak kepada ibunya. Engkau juga sudah menganggap diriku sebagai anak, yang sebenarnya dalam ikatan keluarga memang sudah sangat dekat. Tapi mengapa semenjak diriku mendengar kabar yang kurang mengenakkan itu. itu seakan menjadi jarak yang berusaha menjauh.

          Tahukah engkau bahwa perasaan tidak bisa dipaksakan. Sebenarnya, rasa kecewa, tidak bisa di tutupi dalam diriku. Jika diriku dan engkau sudah menganggap anak atau ibu satu sama lain, otomatis blab bla bla…

          Yang jelas. Sebagaimanapun diriku berusaha taat pada engkau. Jika itu sungguh sudah terucap di depan wajahku dan terdengar langsung oleh telingaku, maka jangan salahkan diriku yang nantinya akan membangkang.

          Sudah berapa kali diriku tebarkan kepada semua. Jika diriku memiliki jiwa yang bisa menilai kepribadian seseorang. Terlebih lagi jika kepribadian seseorang itu sudah diketahui oleh banyak orang. So, apakah diriku harus melihat itu terjadi?

          Kali ini, dengarkan diriku. Diriku tidak mengapa tentang perjodohan. Asalkan TIDAK ADA PAKSAAN untuk itu. biarkan diriku yang menentukan, apakah aku terima perjodohan itu atau tidak.. so please jangan membuat aku menjadi anak yang membangkang.