Mendengar
dan melihat orang-orang yang pada bersemangat jika melontarkan kata “PULKAM”,
membuat hati ini terasa iri pada mereka. Saat yang ditunggu-tunggu berkumpul
dengan keluarga, memang adalah hal yang begitu dirindukan. Setelah sibuk dengan
segunung aktifitas yang menguras tenaga, pikiran dan perasaan, mungkin. Kini ada
kalanya, ada secuil kata tentang rindu untuk berjumpa, tergambar sebuah raut
kegirangan ingin bersua. Tapi, apakah itu juga teruntuk pada diriku?
Tidak
pulang? Kapan liburnya? Kurang lebih seperti itu sepata-kata dari mereka. Menunggu
diriku yang merasa kebingungan.
Semenjak
kepergian Ibu, diriku sudah menganggap engkau sebagai ibu. Menghormatimu,
menyayangimu layaknya seorang anak kepada ibunya. Engkau juga sudah menganggap
diriku sebagai anak, yang sebenarnya dalam ikatan keluarga memang sudah sangat
dekat. Tapi mengapa semenjak diriku mendengar kabar yang kurang mengenakkan
itu. itu seakan menjadi jarak yang berusaha menjauh.
Tahukah
engkau bahwa perasaan tidak bisa dipaksakan. Sebenarnya, rasa kecewa, tidak
bisa di tutupi dalam diriku. Jika diriku dan engkau sudah menganggap anak atau
ibu satu sama lain, otomatis blab bla bla…
Yang
jelas. Sebagaimanapun diriku berusaha taat pada engkau. Jika itu sungguh sudah
terucap di depan wajahku dan terdengar langsung oleh telingaku, maka jangan
salahkan diriku yang nantinya akan membangkang.
Sudah
berapa kali diriku tebarkan kepada semua. Jika diriku memiliki jiwa yang bisa
menilai kepribadian seseorang. Terlebih lagi jika kepribadian seseorang itu
sudah diketahui oleh banyak orang. So, apakah diriku harus melihat itu terjadi?
Kali
ini, dengarkan diriku. Diriku tidak mengapa tentang perjodohan. Asalkan TIDAK
ADA PAKSAAN untuk itu. biarkan diriku yang menentukan, apakah aku terima
perjodohan itu atau tidak.. so please jangan membuat aku menjadi anak yang membangkang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar