Jumat, 23 Oktober 2015

Kamis, 22 Oktober 2015

Arti Sebuah Cincin

            CINCIN…
            Cincin identik dengan perempuan. Bahkan cincin yang tersemat pada jari manis seorang perempuan, biasanya disimpulkan jika perempuan itu sudah terikat dengan lawan jenisnya. Bahkan terikat hubungan suami-istri.

            Baik itu cincin yang terbuat dari emas, maupun yang terbuat dari perak. Semuanya dicap seperti itu. Bukan hanya aku memakai cincin karena memang dari semua jenis aksesoris, cincin adalah benda yang lebih menarik hati untuk menggunakannya. Tapi, juga untuk menjaga-jaga para lebah-lebah diluar sana.

            Ceritanya seperti ini. Ada seorang lelaki yang menanyakan perihal cincin yang aku kenakan itu. Tidak hanya lelaki bahkan beberapa orang yang aku temui bertanya-tanya tentang sebuah cincin yang melekat di kedua jari manisku.

            “Siapa yang memasangkan itu di jari ta’” dengan logat Sulawesi, lelaki itu menunjuk pelan tanganku.

            Aku spontan kaget dengan perkataan itu. Dengan sedikit salah tingkah, aku menyembunyikan kedua tanganku kearah belakang tubuhku. Sebab sadarku mengatakan jika lelaki ini sudah memperhatikan tanganku entah mulai kapan. Terlebih tanganku tidak secantik tangan para artis bahkan model-model perempuan diluar sana.

            “Hmmm… Kenapa nanya seperti itu?” Aku berusaha ngeles sebelum menjawab pertanyaannya. Dalam hatiku mulai mencari cara bagaimana menjawab pertanyaannya. Terkadang dibalik perkataan laki-laki ada maksud lain yang ingin diketahuinya. Aku harus menyiapkan jawaban yang pas untuk tidak terjadi hal-hal yang tidak aku harapkan.

            Rasanya aku harus berkata bohong. Padahal aku benci untuk berbohong. Tapi, jika aku jujur. Aku takut jika akan kewalahan menghadapi semuanya dengan maksud yang lain padaku. Lagi-lagi aku benci dihadapkan pada hal seperti itu.

            “Jawab dong, sudah tunangan?” Tanyanya lagi padaku yang tidak menjawab pertanyaannya sedari tadi.

            Iyakan sajalah, daripada akan rumit nantinya.

            Memakai cincin memang bisa melindungi dari orang-orang yang doyan menggombal. Tapi kata orang, memakai aksesoris mahal juga mengundang pencuri untuk mendekat pada kita.
            Waaa, jadi solusinya gimana dong? J


             

You Say Just Sandiwara

            Terkadang aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa aku selalu dihadapkan pada hal seperti ini. Hal yang menurutku sangat sulit untuk dihadapi. Begitu susahnya kuhadapi dengan tidak ingin menyakiti perasaan siapapun. Sedih maupun senang, memang adalah ujian yang diberikan Allah sang pencipta untuk bagaimana melaluinya dengan jalan yang diridhoi.

            Ada satu hal yang sebenarnya mesti mereka ketahui. Aku tidak menyukai bahkan sedikit benci dengan sesuatu yang terus diucapkan indah dengan kata-kata. Terlebih dihadapan banyak orang, dengan niat membangga-banggakan diri. Ya, saat ini dikenal dengan istilah “Gombalan”.

            Gombalan yang hanya diperuntukkan untuk mendapatkan hati lawan jenisnya. Semuanya terasa sangat berlebih-lebihan. Semuanya hanya akan membawa kepada zina. Jika mampu meluluhkan hati yang bukan mukhrim. Sampai terbuai dengan hal-hal itu.

            Semuanya seolah tidak konsisten dengan ucapannya. Saat rentetan kalimat demi kalimat yang diucapkan begitu saja, tanpa memikirkan dampak dan perasaan orang lain. Terlebih jika semuanya diucapkan pada setiap perempuan.

            SANDIWARA…
            Terlalu sering dia mengatakan ini hanya sebatas sandiwara. Bahkan mungkin pada semua orang di dunia, dikatakan ini sandiwara semata. Tapi, kenapa dihadapanku engkau mengelak dengan semuanya. Sampai berani bersumpah dengan menyebut nama-Nya.

            Aku sama sekali belum bisa menebak maksud dari semuanya. Apa maksud yang sebenarnya dia inginkan? Akhirnya aku mulai cuek dan memaksakan diri untuk tidak peduli dengan semua ini. Meski aku tidak bisa seperti itu dengan orang lain.

             Aku kecewa bercampur bingung sendiri dengan tingkahnya. Serasa semuanya tidak masuk di alam pikirku. Terus saja dikatakannya ini sandiwara, meskipun aku menangkap sedikit dari tatapan mata dan tingkahnya, yang mengatakan ini bukan sekedar sandiwara. Ada perkataan jujur yang ingin dia sampaikan tapi tidak mampu disampaikan jika tidak bersandiwara.

            Akhirnya aku terbuai dengan kata-kata sandiwara itu. Semuanya yang dia ucapkan, tercap sandiwara dalam pendengaranku. Sekuat tenaga engkau ingin mengatakan kejujuran. Aku serasa sulit untuk mempercayainya lagi. Engkau telah salah selama ini. Mengapa mesti bersandiwara jika itu sebuah kejujuran.


            “Jangan Bersandiwara, Jika Tidak Ingin Orang Lain Juga Bersandiwara”

Nikah?????

            Sebuah ucapan adalah doa. Ya seperti itulah sebuah perkataan yang kita ucapkan setiap hari. Sehingga alangkah naiknya apa yang keluar dari bibir adalah perkataan yang baik-baik.

            Aku tidak menyangkah anak-anak didikku meminta agar aku tinggal di kampong mereka untuk selamanya. Dengan tingkah seorang anak yang masih berada di tingkah SD.

            “Tinggal disini selamanya ka’?” Tanya seorang dari mereka, kemudian yang lain ikut menimpali.

            “iya. Iya ka’… Di rumahnya pak Dusun” sahut anak yang lain.

            Melihat semangat mereka. Aku bingung mau menanggapi apa. Karena mereka masih anak-anak, aku mengikuti arus.

            “Tinggal selamanya?” tanyaku dengan kaget.

            “Iya… disini saja menikah. Di rumahnya Pak Dusun. Nanti diberi cengkeh satu pohon.” Celetuk anak-anak dengan riangnya.

            Aku dibuat tertawa dibuatnya. Bahkan seakan tidak bisa membalas pertanyaannya.

            “Menikah? Anak-anak…” tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengarnya. Namanya anak-anak, ucapannya terkadang ngaur.

            “Jadi saya menjadi orang sini dong? Hmmm terus hanya sepohon cengkeh?” aku mencoba mengetes mereka.

            “Sepohon cengkeh itu banyak ka’…” sahut yang lain

            Ternyata anak yang lain tidak kalah semangat.

            “Tiga atau empat pohon? Bagaiamana…?”

            Melihat mereka semakin semangat. Aku jadi diam untuk meredahkan pembahasan ini. Sepertinya anak-anak semakin menjadi-jadi. Untung saja pak dusun tidak memiliki anak lelaki. Bisa repot jika anak-anak bicara sembarang seperti ini.

            Keesokan harinya. Tepatnya setelah tidur siang. Teman-teman posko berkumpul di teras rumah dengan pak Dusun beserta istrinya. Aku yang baru bangun ingin lewat untuk ke kamar mandi sekedar cuci muka. Eh sebut saja Tin (teman posko) memanggilku.

            “Ga’, Katanya Pak Dusun, Kamu tinggal disini selamanya?” katanya

            Aku yang baru bangun otomatis kaget dibuatnya bahkan slaah tingkah do depan mereka. Ditemani wajahku yang seakan berantakan.

            “Ha? Selamanya?” jawabku terbata-bata.

            Masalahnya baru saja kemarin anak-anak memintaku untuk disini selamanya. Kenapa Pak Dusun ikut-ikutan mengatakan itu. Aku semakin bingung.

            “Iya, disini saja. Cari orang sini saja. Nanti dicarikan sama Pak Dusun” Tin menyahut dengan semangatnya sembari tertawa.

            Aku hanya bisa tertawa melihat mereka. “”Hmmm… sembarang nih kalian.”

            “Iya… Nanti tinggal undang kami. Kami tunggu undangan”

            Semakin ngaur nih. Pak Dusun dan Ibu Dusun hanya tersenyum melihat percakapan kami. Bahkan mengaminkan itu semua.

            Aku benci dingin, tapi kenapa diminta untuk selamanya disini…
            Aneh bin ajaib…
            Hhh



            

KKNP Bercerita

            Aku mengenal mereka bukan karena tampa sengaja. Kuliah Kerja Nyata Profesi yang mempertemukan aku dengan mereka semua. Teman baru, sahabat baru bahkan menjadi keluarga baru saya.

            Mulai dari yang memiliki sifat pemalu, yang seiring berjalannya waktu bisa memposisikan sifat pemalu itu. Ada yang pegombal, bahkan ada beberapa. Entah mengapa aku selalu menjadi korban gombalan yang sering mereka godain. Mungkin karena aku selalu bersifat dingin pada mereka.

            Seminggu masa beradaptasi. Membuat kami mulai sangat akrab satu sama lain. Tidak ada lagi perbedaan yang membentengi kami. Jika yang lain kesusahan maka kami akan membantu dengan senang hati.

            Menyatu dengan masyarakat juga menjadi begitu hangat. Masyarakat menerima kami dengan senang hati. Meskipun namanya manusia tidak sepenuhnya semuanya baik.

            Kami harus bersabar menerima perlakuan yang sebenarnya tidak seperti itu. Itulah susah duka berKKNP. Semua rasa ada disini. Apa yang telah kita pelajari di bangku perkuliahan, ditorehkan dalam pengaplikasiaan di masyarakat.

            Selamat mengabdi …….
            Teringat masa KKNP


Senin, 19 Oktober 2015

You Don't Understand

Kamu benar-benar belum mengerti. Kamu tidak merasa bersalah tentang apa yang telah keluar dari lisanmu. Kamu menganggap semua baik-baik saja, kamu tersenyum padanya tetapi tidak mengerti dengan lawan bicaramu, apakah dia ikhlas membalas senyuman itu? kamu tidak tahu kan?

          Disatu sisi, kamu termasuk lelaki yang belum mengerti tentang perempuan. Aku berani mengatakan itu, karena seperti itulah kenyataannya. Kamu telah menorehkan satu titik hitam pada hatinya. Kamu buta dan tuli akan itu.

          Seorang perempuan memang sangat pintar menyembunyikan sesuatu yang dirasakannya. Apapun itu, dia mampu menutupnya rapat-rapat agar tidak ada yang dapat mendapatkan lubang sedikitpun untuk mengintip.

          Tetapi, dia akan terus mengingat itu di dalam hatinya. Dia akan terus terbayang-bayang tentang apa yang telah kamu lakukan padanya. Perempuan sangat cepat tersentuh oleh apapun itu. sebab perempuan lebih menggunakan perasaannya, beda jauh dengan lelaki yang menggunakan logika. Itulah mengapa lemah lembut yang lebih tepat digunakan untuk sosok perempuan.

          Aku teringat dengan sebuah perkataan “Jika engkau menyayanginya, maka engkau tidak akan pernah menyakiti perasaannya”. Dari situlah aku mengambil kesimpulan, jika kamu telah menyakiti perasaannya, meskipun menurutmu itu biasa, tapi ternyata sampai membuat perasaannya padamu menurun beberapa persen. Maka itu berarti kamu belum benar-benar menyayanginya.

          Kamu belum mengerti akan semua itu…………………!!!!