Kamis, 22 Oktober 2015

Nikah?????

            Sebuah ucapan adalah doa. Ya seperti itulah sebuah perkataan yang kita ucapkan setiap hari. Sehingga alangkah naiknya apa yang keluar dari bibir adalah perkataan yang baik-baik.

            Aku tidak menyangkah anak-anak didikku meminta agar aku tinggal di kampong mereka untuk selamanya. Dengan tingkah seorang anak yang masih berada di tingkah SD.

            “Tinggal disini selamanya ka’?” Tanya seorang dari mereka, kemudian yang lain ikut menimpali.

            “iya. Iya ka’… Di rumahnya pak Dusun” sahut anak yang lain.

            Melihat semangat mereka. Aku bingung mau menanggapi apa. Karena mereka masih anak-anak, aku mengikuti arus.

            “Tinggal selamanya?” tanyaku dengan kaget.

            “Iya… disini saja menikah. Di rumahnya Pak Dusun. Nanti diberi cengkeh satu pohon.” Celetuk anak-anak dengan riangnya.

            Aku dibuat tertawa dibuatnya. Bahkan seakan tidak bisa membalas pertanyaannya.

            “Menikah? Anak-anak…” tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengarnya. Namanya anak-anak, ucapannya terkadang ngaur.

            “Jadi saya menjadi orang sini dong? Hmmm terus hanya sepohon cengkeh?” aku mencoba mengetes mereka.

            “Sepohon cengkeh itu banyak ka’…” sahut yang lain

            Ternyata anak yang lain tidak kalah semangat.

            “Tiga atau empat pohon? Bagaiamana…?”

            Melihat mereka semakin semangat. Aku jadi diam untuk meredahkan pembahasan ini. Sepertinya anak-anak semakin menjadi-jadi. Untung saja pak dusun tidak memiliki anak lelaki. Bisa repot jika anak-anak bicara sembarang seperti ini.

            Keesokan harinya. Tepatnya setelah tidur siang. Teman-teman posko berkumpul di teras rumah dengan pak Dusun beserta istrinya. Aku yang baru bangun ingin lewat untuk ke kamar mandi sekedar cuci muka. Eh sebut saja Tin (teman posko) memanggilku.

            “Ga’, Katanya Pak Dusun, Kamu tinggal disini selamanya?” katanya

            Aku yang baru bangun otomatis kaget dibuatnya bahkan slaah tingkah do depan mereka. Ditemani wajahku yang seakan berantakan.

            “Ha? Selamanya?” jawabku terbata-bata.

            Masalahnya baru saja kemarin anak-anak memintaku untuk disini selamanya. Kenapa Pak Dusun ikut-ikutan mengatakan itu. Aku semakin bingung.

            “Iya, disini saja. Cari orang sini saja. Nanti dicarikan sama Pak Dusun” Tin menyahut dengan semangatnya sembari tertawa.

            Aku hanya bisa tertawa melihat mereka. “”Hmmm… sembarang nih kalian.”

            “Iya… Nanti tinggal undang kami. Kami tunggu undangan”

            Semakin ngaur nih. Pak Dusun dan Ibu Dusun hanya tersenyum melihat percakapan kami. Bahkan mengaminkan itu semua.

            Aku benci dingin, tapi kenapa diminta untuk selamanya disini…
            Aneh bin ajaib…
            Hhh



            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar