Kamis, 22 Oktober 2015

You Say Just Sandiwara

            Terkadang aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa aku selalu dihadapkan pada hal seperti ini. Hal yang menurutku sangat sulit untuk dihadapi. Begitu susahnya kuhadapi dengan tidak ingin menyakiti perasaan siapapun. Sedih maupun senang, memang adalah ujian yang diberikan Allah sang pencipta untuk bagaimana melaluinya dengan jalan yang diridhoi.

            Ada satu hal yang sebenarnya mesti mereka ketahui. Aku tidak menyukai bahkan sedikit benci dengan sesuatu yang terus diucapkan indah dengan kata-kata. Terlebih dihadapan banyak orang, dengan niat membangga-banggakan diri. Ya, saat ini dikenal dengan istilah “Gombalan”.

            Gombalan yang hanya diperuntukkan untuk mendapatkan hati lawan jenisnya. Semuanya terasa sangat berlebih-lebihan. Semuanya hanya akan membawa kepada zina. Jika mampu meluluhkan hati yang bukan mukhrim. Sampai terbuai dengan hal-hal itu.

            Semuanya seolah tidak konsisten dengan ucapannya. Saat rentetan kalimat demi kalimat yang diucapkan begitu saja, tanpa memikirkan dampak dan perasaan orang lain. Terlebih jika semuanya diucapkan pada setiap perempuan.

            SANDIWARA…
            Terlalu sering dia mengatakan ini hanya sebatas sandiwara. Bahkan mungkin pada semua orang di dunia, dikatakan ini sandiwara semata. Tapi, kenapa dihadapanku engkau mengelak dengan semuanya. Sampai berani bersumpah dengan menyebut nama-Nya.

            Aku sama sekali belum bisa menebak maksud dari semuanya. Apa maksud yang sebenarnya dia inginkan? Akhirnya aku mulai cuek dan memaksakan diri untuk tidak peduli dengan semua ini. Meski aku tidak bisa seperti itu dengan orang lain.

             Aku kecewa bercampur bingung sendiri dengan tingkahnya. Serasa semuanya tidak masuk di alam pikirku. Terus saja dikatakannya ini sandiwara, meskipun aku menangkap sedikit dari tatapan mata dan tingkahnya, yang mengatakan ini bukan sekedar sandiwara. Ada perkataan jujur yang ingin dia sampaikan tapi tidak mampu disampaikan jika tidak bersandiwara.

            Akhirnya aku terbuai dengan kata-kata sandiwara itu. Semuanya yang dia ucapkan, tercap sandiwara dalam pendengaranku. Sekuat tenaga engkau ingin mengatakan kejujuran. Aku serasa sulit untuk mempercayainya lagi. Engkau telah salah selama ini. Mengapa mesti bersandiwara jika itu sebuah kejujuran.


            “Jangan Bersandiwara, Jika Tidak Ingin Orang Lain Juga Bersandiwara”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar