Dapat kabar dari teman SD di BBM,
katanya: “Si A mau merid tanggal 29 Mei”, ya panggil saja dia si A. hehehe…
Rencanapun untuk pulang terealisasi meskipun rencananya hanya PP (Pulang Pergi)
bukan pergi pergi loh, sebab salah satu teman SD sengaja pinjam mobil tantenya
untuk kami teman-temannya dari Makassar.
“Kami sudah di dalam kampus UIN,
dimana asramanya?” kata temanku yang tak lain adalah tetanggaku di kampung.
Meskipun sudah dijelaskan letaknya
tetap saja mereka nyasar ke asrama lain, aduh. Bukan bermaksud balas dendam
karena sudah membuatku menunggu terlalu lama, bayangkan saja siap menunggu dari
siang tapi datangnya habis magrib, lamanya. Akupun tak sengaja membuat mereka
menunggu, karena habis magrib itu, kebiasaan tinggal asrama ya ada rapat asrama
gitu. Akhirnya saya terjebak dan tidak bisa keluar asrama, sebab jalur pintu
keluar dipenuhi kaum lelaki yang sedang rapat. Berkali-kali handphoneku berdering,
panggilan dari teman-teman yang sudah menunggu. Bahkan saya sempat ingin
mengatakan tidak jadi berangkat jika keadaannya sudah seperti ini. Tapi setelah
dipikir-pikir tidak baik juga sebab mereka sudah buang waktu kesini jemput saya
jauh-jauh.
Setengah jam berlalu saya tidak
berani menggangu ustadz yang juga pernah membina kami di asrama ini, yang
sedang berbicara serius membicarakan tentang asrama. Tapi tiba-tiba beliau
menegur ketika HP ku tak henti berdering.
“Silent hapenya!” Sontak semua
beralih ke saya yang sedari tadi teman-teman perempuan sudah merasakan
kegelisahanku. Itupun menjadi kesempatanku untuk meminta izin.
“Maaf ustadz, sebenarnya saya mau
minta izin pulang kampung, mobil jemputannya sudah menunggu diluar” kataku
gugup.
Setelah ditanya-tanya oleh beliau
tentang sudah izin atau belum sama Pembina asrama yang sedang tidak berada di
asrama waktu itu dan juga minta izin sama Pembina yang lain. Saya pun diberi izin
pulang dan menyuruh lelaki untuk membuka jalan untukku, yang menutupi pintu
masuk asrama. Hmm layaknya apa gitu, Aduh terasa eksis seketika di hadapan
mereka. Maaf!
Berlanjut di mobil, saya
mengeluarkan keluh kesahku yang menunggu mereka terlalu lama. Bahkan ada teman
cewek yang tak jadi berangkat karena terlalu sebentar jika harus berangkat malam
begini dan harus balik ke Makassar lagi nanti menjelang subuh, tepar di jalan
kalau gitu. Barru-Makassar lumayan jauh, kurang lebih 100 km.
“Hem, Mega jangan jadi Risna ya
nanti !” celetuk temanku yang menyupiri kami malam itu, dengan nada mengejek.
“Apa? Astaqfirullah. Memangnya saya
sama si A ada hubungan apa? Aduh.” Jawabku kesal. Siapa yang tak kesal jika
dikatain seperti itu, layaknya kisah Risna yang datang dipernikahan kekasihnya.
Akhirnya perbincangan berlanjut ke
kisah-kisah Sekolah Dasar dulu, bayangkan saja lama tak pernah ketemu satu sama
lain. Bahkan teman cewek yang disampingku namanya Indah bisa dibilang 5 tahun
baru ketemu, padahal tetangga dusun. Terakhir ketemu waktu SMA kelas satu, tapi
masih tetap sama orangnya J
.
Mereka terus mengejekku sepanjang
jalan Makassar yang macet itu. Aku bahkan menceritakan ke mereka, saking tidak
sukanya di ejek sama lelaki, saya selalu nangis waktu kecil dulu ketika adik saya
sendiri mengejek saya dengan si A. Tidak disekolah, di rumahpun mendapat ejekan,
tapi itu jurus jitu adikku ketika ingin menang dari saya saat kami sedang
bertengkar. Jika dia sudah sebut nama si A, saya langsung nangis, kalah.
Saya langsung teringat sama salah
satu teman SD juga yang sekarang lagi kerja di Kalimantan. Orangnya sangat
humoris bahkan terkadang saya malas angkat telponnya karena pasti akan capek
ketawa terus. Temanku itu pernah bahas si A waktu nelpon, untung dia nggak
hadir diacaranya si A, hampir saya semakin parah diejekin.
“Sebenarnya
saya dengan si A ada hubungan apa, padahal tidak ada apa-apa kok.” Kesalku.
“Kamu
hanya tak tahu saja Ga’ kalau dulu itu nah kamu jadi rebutan, bahkan sekarang
mungkin kamu juga masih gitu, makanya saya tidak percaya ketika kamu bilang
nggak punya pacar. Masa sih nggak punya” tutur temanku itu dengan logat
kalimantannya.
Saya
jadinya sok-sok tak tahu padahal ngerasa sih, hehehe kepedean. Sebab saya masih
ingat dulu ketika teman-teman cowokku itu sering datang ke rumah dengan alasan mau
belajar bareng, bahkan sempat dimarahi sama orangtua salah satu teman cewekku
karena memanggilnya keluar malam untuk ikutan ke rumahku belajar malam. Aduhh
kisah anak-anak kita lucu.
“Hem
beneran nggak ada. Nggak mesti punya pacar kan? Masa kuliah free dari
pacar-pacaran, lagian pacaran itu tidak dibenarkan dalam Islam. jomblo sampai halal” tanggapku dari balik telepon.
“Yayaya..
Hanya saja dulu itu si A yang sudah kapling kamu, katanya tidak boleh diganggu,
jadi begitulah kamu terus di ejek sama teman-teman sama si A.”
Pembahasan
kembali ke perjalanan. Kendaraan kami masih berada di wilayah Makassar. Bahkan perbincangan
tentang saya terus jadi edisi pembicaraan mereka di sepanjang jalan ke Barru. Indah
nyeletuk yang juga masih jadi teman SMP setelah lulus dari SD itu.
“Iya
nih Mega sadis, bahkan tak ajak bicara si A waktu SMP. Parah kamu Ga’, masih
saya ingat sekali itu.” Kata Indah yang membuat teman lain dalam mobil kaget
karena diantara mereka ada yang tak lanjut SMP bareng dengan kami.
“Iya
maaf. Karena saya tidak suka diejek begitu. Bahkan sudah SMA saya juga pernah nangis gara-gara diejek sama senior. :) (Serasa difitnah jd nangis hehe). Tapi si A nambah-nambahin terus
jadi bagaimana tidak diejek sama teman-teman. Sudah SMP tapi terus diejikin
sama si A. Saya dulu masih bersikap anak-anak banget tidak tersentuh merah
jambu gitu hehehe. Akhirnya emosi dan tak ajak bicara sampai kelulusan SMP,
bayangkan itupun karena bujukan teman-teman yang kasihan sama si A, karena udah
lulus-lulusan tapi belum diajak ngomong. Akhirnya dimaafkan, lagian belum saya
tahu juga kalau dosa jika lebih dari 3 hari.” Jawabku membela diri.
Karena
ingin supaya mereka ganti pembahasan yang terus mengarah ke saya, nanyain siapa
yang nyusul si A selanjutnyalah, apalah. Aduhh akhirnya saya juga mengusik
kisah merah jambu mereka masing-masing waktu SD. Semuanya terlihat lucu,
mengingat kisah lucu. Sebab kisah yang paling lucu ditingkatan sekolah ya waktu
Sekolah Dasar karena tingkah imut dan muka imut ya di SD. Hahaha.
Aku
pokoknya senang sekali ketemu mereka. Barusan bisa reunian setelah sekian lama
tak jumpa, lama sekali. Mereka pun ingin ini bukan pertemuan terakhir tapi berlanjut
dalam waktu dekat ini misalnya berbuka puasa bareng.
Tinggalkan
Makassar sudah isya, jadinya kami sudah mendapati pengantinnya nggak memakai
baju pengantin lagi. Tamu-tamu juga udah bubar tinggal hiburan yang terus
mengusik pendengaran rumah-rumah sekitar dengan music diskonya. *tepuk jidat.
Kami pun ke kondangan dengan wajah-wajah kusut dan ngantuk, tapi tak apalah. Meskipun
lagi-lagi teman-temanku tetap mengejekku dengan si A, untung mempelai
perempuannya tak ada, sedang buka kostum di kamar. Jadi salah tingkah kan
orangnya. Teman-teman jail.
Rencanya
mau kumpul bareng dengan teman-teman SD yang lain tapi katanya sudah pada
pulang karena menunggu kami dari Makassar terlalu larut. 23.00 jadi ya wajar
kok. Maaf ! Rindu kalian teman-teman kecilku.

keren blognya senior cuman html-nya agak sedikit membingungkan Brandanya tidak tersusun rapih
BalasHapusiya mksih sarannya
Hapusdek...