Hari itu, 25 September 2016. Kurang lebih
4 tahun lalu saya masih kebingungan dengan diriku sendiri yang melihat kampus
ini begitu besar, luas dan diluar dugaanku. Saat itu aku serasa tidak percaya
bisa lulus di Universitas ini dengan beasiswa. Tapi dari situlah perjalananku
menuntut ilmu kembali dimulai. Meskipun dengan jurusan yang saya saja masih
bingung dengan apa yang telah kupilih. Namun ada hal yang membuatku berani
mengambil resiko berat ini, aku bisa meraih dunia akhirat tentunya dan aku bisa
mengurangi beban pembiayaan Bapak saya seperti alasan mengapa awalnya saya
tidak ingin merepotkan orang tuaku.
Semangatku menuntut ilmu lumayan
menggebu, namun jika harus membuat bapak saya banting tulang sana sini dengan
umur yang semakin menua, saya tidak sanggup. Namun saat aku mulai tak berniat
melanjutkan pendidikan perguruan tinggiku saat itu, ada salah satu guru yang
begitu prihatin dengan apa yang aku lakukan. Apa yang kuraih di bangku aliyah,
seharusnya tidak boleh berhenti sampai disitu.
Akhirnya beliaulah yang membantu memberikan
solusi saat itu, sampai aku pun bisa memakai toga ini dihadapan ribuan orang
dengan penuh bangga. Meskipun pencapaian akhir tidak sebagus saat aliyah, tapi
setidaknya saya bangga bisa melihat senyum mereka. Aku bangga bapakku bisa menyaksikanku
seperti ini tanpa merengek padanya.
Setelah pengukuhan, kakiku begitu
lincah melewati anak tangga gedung auditorium. Melihat begitu banyak kepala
diluar sana yang menunggu wisuda dan wisudawan. Mataku pun mencari segerombolan
orang-orang yang sedari tadi meneleponku, ya mereka keluarga dari pihak bapak
dan almarhumah mama. Awalnya aku berat mengundang mereka untuk hadir, tapi
mereka begitu semangat ingin datang jauh-jauh dari kampung masing-masing hanya
untuk melihatku memakai baju wisuda dengan toga hari itu. Sedih bercampur
bahagia sekali.
Pelukan mereka membuatku sulit
menahan air mata yang sdari tadi mulai berkaca-kaca melihat mereka dari
kejauhan. Terlebih ketika mereka berucap “ana’na kasi’ tauwe wisuda ni, olona
kampi emmakmu nak, marennu na tuh mitako mappakue” (Anaknya orang ini ternyata sudah
wisuda, seandainya ibumu masih ada, pasti dia sangat senang melihat mu sepert
ini). Air mataku pun tumpah, terisak dan tubuhku terasa lemas. Aku rindu Ibu
yang tidak bisa melihat anaknya seperti ini. Kuterisak dalam pelukan mereka
yang begitu sayang padaku. Kehadiran mereka yang sampai 3 mobil full itu tak
bisa membuatku berkata-kata. Aku sangat terharu meskipun aku belum bisa memberikan
yang terbaik buat mereka.
Inilah semester baru kehidupanku
kembali dimulai. Setelah ini entah takdirku akan membawaku kemana, yang jelas
apa yang telah aku dapatkan kemarin akan tetap melekat dan menyambut apa yang
akan datang setelahnya. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih.




Setiap pribadi punya kisah masing-masing. Setiap kisah punya alurnya masing-masing. Seperti tulisan, ia mengabadikan cerita.
BalasHapus"Selamat" atas peraihan gelarnya kak..
Tiap jejak kaki punya skenario masing-masing,, :) Iya makasih Pa*Ket**
Hapus