Senin, 26 September 2016

Toga di 25 September 2016


            Hari itu, 25 September 2016. Kurang lebih 4 tahun lalu saya masih kebingungan dengan diriku sendiri yang melihat kampus ini begitu besar, luas dan diluar dugaanku. Saat itu aku serasa tidak percaya bisa lulus di Universitas ini dengan beasiswa. Tapi dari situlah perjalananku menuntut ilmu kembali dimulai. Meskipun dengan jurusan yang saya saja masih bingung dengan apa yang telah kupilih. Namun ada hal yang membuatku berani mengambil resiko berat ini, aku bisa meraih dunia akhirat tentunya dan aku bisa mengurangi beban pembiayaan Bapak saya seperti alasan mengapa awalnya saya tidak ingin merepotkan orang tuaku.
            Semangatku menuntut ilmu lumayan menggebu, namun jika harus membuat bapak saya banting tulang sana sini dengan umur yang semakin menua, saya tidak sanggup. Namun saat aku mulai tak berniat melanjutkan pendidikan perguruan tinggiku saat itu, ada salah satu guru yang begitu prihatin dengan apa yang aku lakukan. Apa yang kuraih di bangku aliyah, seharusnya tidak boleh berhenti sampai disitu.  
            Akhirnya beliaulah yang membantu memberikan solusi saat itu, sampai aku pun bisa memakai toga ini dihadapan ribuan orang dengan penuh bangga. Meskipun pencapaian akhir tidak sebagus saat aliyah, tapi setidaknya saya bangga bisa melihat senyum mereka. Aku bangga bapakku bisa menyaksikanku seperti ini tanpa  merengek padanya.
            Setelah pengukuhan, kakiku begitu lincah melewati anak tangga gedung auditorium. Melihat begitu banyak kepala diluar sana yang menunggu wisuda dan wisudawan. Mataku pun mencari segerombolan orang-orang yang sedari tadi meneleponku, ya mereka keluarga dari pihak bapak dan almarhumah mama. Awalnya aku berat mengundang mereka untuk hadir, tapi mereka begitu semangat ingin datang jauh-jauh dari kampung masing-masing hanya untuk melihatku memakai baju wisuda dengan toga hari itu. Sedih bercampur bahagia sekali.
            Pelukan mereka membuatku sulit menahan air mata yang sdari tadi mulai berkaca-kaca melihat mereka dari kejauhan. Terlebih ketika mereka berucap “ana’na kasi’ tauwe wisuda ni, olona kampi emmakmu nak, marennu na tuh mitako mappakue” (Anaknya orang ini ternyata sudah wisuda, seandainya ibumu masih ada, pasti dia sangat senang melihat mu sepert ini). Air mataku pun tumpah, terisak dan tubuhku terasa lemas. Aku rindu Ibu yang tidak bisa melihat anaknya seperti ini. Kuterisak dalam pelukan mereka yang begitu sayang padaku. Kehadiran mereka yang sampai 3 mobil full itu tak bisa membuatku berkata-kata. Aku sangat terharu meskipun aku belum bisa memberikan yang terbaik buat mereka.
            Inilah semester baru kehidupanku kembali dimulai. Setelah ini entah takdirku akan membawaku kemana, yang jelas apa yang telah aku dapatkan kemarin akan tetap melekat dan menyambut apa yang akan datang setelahnya. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih.
           




2 komentar:

  1. Setiap pribadi punya kisah masing-masing. Setiap kisah punya alurnya masing-masing. Seperti tulisan, ia mengabadikan cerita.

    "Selamat" atas peraihan gelarnya kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap jejak kaki punya skenario masing-masing,, :) Iya makasih Pa*Ket**

      Hapus